Pada beberapa bulan yang lalu, saya mendapatkan laporan dari anak pertama saya, tepatnya pada tanggal 2 Ramadhan. “Abi…, tadi saya melihat adik sedang berkumur-kumur di kran wudlu masjid lama sekali. Setelah saya datang di sebelahnya, tiba-tiba ia menghentikan berkumurnya dan melanjutkan wudlunya hingga selesai.” Saya kemudian mengucapkan terima kasih atas laporan tersebut.
Laporan anak saya di atas sepertinya juga telah menempatkan saya pada dua kondisi perasaan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi saya merasa bersedih karena anak saya melakukan hal yang tidak sesuai dengan hati nuraninya; berkumur-kumur panjang untuk mengurangi tingkat panas dan hausnya karena berpuasa. Di sisi lain saya berbahagia karena laporan tersebut menumbuhkan kesadaran pada diri saya bahwa ada satu nilai pendidikan yang masih harus saya bangun pada diri anak, terutama anak kedua saya. Nilai tersebut adalah merasakan kehadiran Allah.
Idealnya anak saya tidak melakukan kumur-kumur dalam waktu yang panjang karena hati nuraninya menangkap bahwa Allah selalu mengawasi seluruh amal perbuatannya. Ia masih takut perbuatannya dilihat oleh orang lain, dalam hal ini kakaknya, daripada dilihat oleh Allah.
Beberapa hari berikutnya saya selalu merenungkan nilai merasakan kehadiran Allah dan cara menumbuhkannya pada diri anak. Bahkan pada satu kesempatan siaran di sebuah radio tentang pendidikan anak, saya telah mengambil masalah di atas sebagai tema utama.
Subhanallah, saya baru menyadari pada akhir-akhir Ramadhan kemarin bahwa inilah salah satu nilai sentral dari pelaksanaan ibadah puasa, yaitu merasakan kehadiran Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., “Seluruh amal ibadah anak Adam adalah miliknya, kecuali puasa. Ia milikku dan aku akan memberi balasannya sendiri.”
Mungkin untuk ibadah shalat dan zakat kita masih dapat menapaktilasi bekas pelaksanaannya. Namun, untuk ibadah puasa, siapa yang dapat memastikan bahwa seseorang masih sedang berpuasa atau sudah tidak berpuasa lagi.
Saat seseorang memutuskan untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya, walaupun di rumah ia mengaku berpuasa karena ikut makan sahur dan disediakan makanan berbuka, pelajaran merasakan kehadiran Allah berdentang di dalam hati nuraninya. Jika ia mengikuti hati nuraninya, maka ia tidak menghentikan aksi tersebut. Sebaliknya, jika ia melanjutkan aksinya dengan memasukkan makanan tersebut, maka dentangan perasaan diawasi oleh Allah semakin lama semakin menghilang.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk membantu anak merasakan kehadiran Allah, diantaranya adalah:
1. Orangtua Harus Menjadi Contoh
Orangtua menjadi contoh bagi anak dalam merasakan kehadiran Allah di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saat bepergian bersama dengan keluarga, tiba-tiba terdengar suara adzan dari masjid. Orangtua kemudian menghentikan kendaraan untuk menuju ke masjid yang sedang mengumandangkan adzan tersebut. Sikap kita ini dapat menumbuhkan arti penting Allah pada jiwa anak.
2. Menjadikan Peristiwa Sehari-hari sebagai Sarana Mengingat Allah
Beberapa peristiwa sehari-hari dapat dijadikan sarana yang mudah bagi anak untuk menangkap perasaan akan hadirnya Allah dalam hidupnya, seperti ketika anak mengalami kecelakaan kecil, kemudian orangtua menolongnya diiringi sebutan nama-nama Allah selama proses tersebut.
3. Memberikan Kisah Teladan kepada Anak
Beberapa cerita pendek tentang kehadiran Allah akan sangat membantu anak untuk merasakan kehadiran Allah, seperti cerita Umar bin Khattab dengan seorang ibu dan putrinya yang hendak mencampur susu mereka dengan air putih.
Suatu hari beberapa Sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW. tentang makna ihsan. Rasulullah SAW. menjawabnya, “Beribadahlah kepada Allah, seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat kamu.”
Semoga hadits di atas mampu menginspirasi kita untuk selalu merasakan kehadiran Allah dalam hari-hari kita.
Miftahul Jinan, M. Pd. I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Tips Instan Mendidik Anak”


