Ini bukanlah sebuah upaya untuk meminta buah hati kita menjadi orang-orang seperti mereka. Karena memang setiap manusia mempunyai talentanya masing-masing. Akan tetapi ini hanya sebuah usaha untuk mengidentifikasi DNA sukses mereka, sehingga dapat memperjelas bagi orangtua apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk memunculkan DNA tersebut pada anak-anak kita.
Saya pernah bertanya kepada sekelompok ibu-ibu, menurut mereka apa yang menjamin buah hati mereka sukses di masa yang akan datang? Ada yang menjawab kemandirian, kejujuran, kreatif, kesabaran, kecerdasan sosial, kesungguhan, pantang menyerah, dan lain-lain. Mayoritas jawaban mereka adalah hal-hal yang menyangkut sifat, moral, kepribadian, dan lain-lain.
Kita akan menjumpai sebuah fenomena yang sangat mirip bahwa mayoritas identifikasi DNA sukses mereka (orang-orang sukses) adalah hal tentang sifat, karakter, moral, atau kepribadian. Sehingga identifikasi DNA sukses ini akan sarat tentang moral atau karakter tokoh tersebut dan proses munculnya moral atau karakter tersebut dalam sejarah kehidupan mereka.
1. Umar bin Khattab.
Apa yang akan muncul dalam benak kita saat kita mendengar nama Umar bin Khattab? Ketegasan, istiqomah, komitmen, kesahajaan, bijaksana, hanif, dan lain-lain. Mengapa kata-kata ini muncul begitu saja dalam benak kita? Jawabannya adalah sejarah hidup beliau bahkan sebelum beliau masuk Islam hingga akhir hayatnya sarat dengan sikap-sikap yang mencerminkan ketegasan, istiqomah, komitmen, kesahajaan, bijaksana, dan kehanifan.
Rasulullah Muhammad SAW memberi gelar kepada beliau dengan Al Faruq, yang berarti orang yang mampu memisahkan antara kebaikan dan kebatilan. Dengan beberapa karakter di atas memang lebih mudah bagi Umar bin Khattab untuk melihat apakah suatu kejadian adalah kebaikan atau kebatilan.
Ketegasan Umar bin Khattab dapat dirasakan dalam cerita ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab naik mimbar dan berkhutbah,
“Wahai, kaum muslimin! Apakah tindakanmu apabila aku memiringkan kepalaku ke arah dunia seperti ini?” (lalu beliau memiringkan kepalanya). Seorang sahabat menghunus pedangnya. lalu, sambil mengisyaratkan gerakan memotong leher, ia berkata,
“Kami akan melakukan ini.” Umar bertanya, “maksudmu, kau akan melakukannya terhadapku?” Orang itu menjawab, “Ya!” lalu Amirul Mukminin berkata, “Semoga Allah memberimu rahmat! Alhamdulillah, yang telah menjadikan di antara rakyatku orang apabila aku menyimpang dia meluruskan aku.”
Cerita lain adalah Umar bin Khattab mendengar bahwa salah seorang anaknya membeli cincin bermata seharga seribu dirham. ia segera menulis surat teguran kepadanya dengan kata-kata sebagai berikut:
“Aku mendengar bahwa engkau membeli cincin permata seharga seribu dirham. Kalau hal itu benar, maka segera juallah cincin itu dan gunakan uangnya untuk mengenyangkan seribu orang yang lapar, lalu buatlah cincin dari besi dan ukirlah dengan kata-kata, Semoga Allah merahmati orang yang mengenali jati dirinya.”
Pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab membutuhkan uang untuk keperluan pribadi. ia menghubungi Abdurrahman bin ‘Auf, sahabat yang tergolong kaya, untuk meminjam uang 400 dirham. Abdurrahman bertanya,
“Mengapa engkau meminjam dari saya? Bukankah kunci baitul maal (kas negara) ada di tanganmu? mengapa engkau tidak meminjam dari sana?”
Umar menjawab, “Aku tidak mau meminjam dari baitul maal. Aku takut pada saat maut merenggutku, engkau dan segenap kaum muslimin menuduhku sebagai pemakai uang baitul maal. Dan kalau hal itu terjadi, di akhirat amal kebajikanku pasti dikurangi. Sedangkan kalau aku meminjam dari engkau, jika aku meninggal sebelum aku melunasinya, engkau dapat menagih utangku dari ahli warisku.”
Umar mengakui kesalahan, saat itu Umar bin Khattab sedang berkhutbah,
“Jangan memberikan emas kawin lebih dari 40 uqiyah (1240 gram). Barangsiapa melebihkannya maka kelebihannya akan kuserahkan ke baitul maal.”
Dengan berani, seorang wanita menjawab, “Apakah yang dihalalkan Allah akan diharamkan oleh Umar? Bukankah Allah berfirman, …sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka sejumlah harta, maka janganlah kamu mengambil dari padanya sedikitpun. (An Nisaa’:20) Umar berkata,” Benar apa yang dikatakan wanita itu dan Umar salah.”
Suatu ketika seorang wanita mengadu kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a, bahwa ia diperkosa. Karena ia melawan dan memberontak, maka air mani lelaki tersebut tertumpah dan mengotori pakaiannya. Sebagai barang bukti, diperlihatkannya pakaiannya yang terkena tumpahan cairan putih.
Sayyidina Umar RA tidak segera percaya terhadap wanita itu. Ia meminta pendapat Ali bin Abi Thalib, Ali berkata, “Sirami tumpahan putih itu dengan air panas. Kalau bercak itu membeku, maka itu pasti putih telur. Dan kalau ia hilang dan lumat bersama air, maka itu adalah air mani.”
Ketika bercak itu disiram air panas, ternyata ia membeku. Umar dan Ali pun memutuskan bahwa pengaduan wanita itu palsu. Umar RA berkata kepada wanita itu, ” Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai wanita! Pengaduanmu ternyata bohong dan tuduhanmu palsu.”
2. Karmaka Surjaudaja
Tokoh ini barangkali belum banyak kita kenal, kecuali setelah kemunculannya dalam acara talk show sebuah televisi swasta dan terbitnya buku tentang kisah hidupnya yang ditulis oleh Dahlan Iskan.
Dari tampilanya pada acara Kick Andy dan buku tentang kisah hidupnya yang berjudul “Tidak Ada Yang Tidak Bisa” orang langsung mengenalnya sebagai sosok yang pantang putus asa, pekerja keras dan mempunyai integritas tinggi.
Sejak 13 tahun lalu, Karmaka divonis mati oleh dokter. Namun, dia bersyukur Tuhan selalu menyayanginya sehingga setiap menghadapi cobaan besar bisa melampaui.
Karmaka memulai cerita hidup dengan mengenang saat dirinya diduga menderita penyakit kanker sirosis dan dibawa ke New York, Amerika Serikat. Setelah diperiksa, ternyata dia menderita PBC (primary biliary cirrhosis), penyakit hati yang disebabkan abnormalitas sistem imun tubuh.
Meski bukan kanker, penyakit yang dia derita tidak kalah gawat. Saat itu Prof Fenton Shaffner yang memeriksa Karmaka mengemukakan bahwa penyakit yang dia derita tidak ada obatnya. Pengidap penyakit itu biasanya akibat merokok dan minum-minuman alkohol.
“Padahal, saya tidak merokok dan minum alkohol. Kemungkinan karena saya sering berada dalam ruangan orang yang merokok untuk membicarakan bisnis,” kenang pria yang dipanggil Nyao oleh cucu-cucunya itu.
Setelah berkonsultasi, dokter menyimpulkan bahwa penyebab penyakit Karmaka adalah overstress yang berkelanjutan. Sejak muda Karmaka memang dikenal sebagi pekerja keras. Pagi dia mengajar sebagai guru, siang menjadi buruh pabrik tekstil, dan malam sebagai guru les privat. Aktivitas yang terakhir membuat dia bertemu dengan istri yang mendampinginya hingga kini.
Karena memang tak ada obatnya, dokter Amerika itu menyuruh Karmaka bersama istri pulang dan menikmati sisa hidup. Namun, Karmaka tak menyerah. “Kami ke poliklinik di Jerman, kemudian ke Jepang. Semua dokter angkat tangan,” katanya.
Saat kembali ke tanah air, pikiran Karmaka lebih tertuju kepada buah hatinya. Anak-anaknya disuruh untuk menuntut ilmu ke Amerika Serikat. Pada 1997, kondisi dia terus memburuk. Itu ditandai dengan gejala-gejala seperti muntah darah maupun berak darah.
Satu-satunya pengobatan saat itu adalah transplantasi hati. Karmaka menolak. Sebab, saat itu teknologi kedokteran belum semaju sekarang. Di antara tiga orang Indonesia yang transplantasi, tidak ada satu pun yang bisa bertahan hidup dalam setahun.
Suatu hari, masih pada 1997, Karmaka pingsan di kantor pusat Bank NISP di Bandung. Penyakit itu telah menyebabkan saluran pembuluh darahnya hampir pecah. Dia kemudian diterbangkan ke sebuah rumah sakit Mount Sinai di New York, Amerika.
Di sana pihak RS justru memarahi keluarga Karmaka karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan. “Mencari donor (liver) di Amerika juga tidak mudah. Butuh waktu 12 tahun,” kata Karmaka, yang saat bayi 10 bulan harus dijamin 500 gulden untuk bisa masuk Indonesia dengan perahu.
Akibat berbagai problem yang mengimpit, Karmaka sempat hilang akal. Dia meminta seluruh keluarganya pulang ke Bandung. Kalau tidak, dia memilih untuk meninggal saja. Tidak mau berdebat dengan pasien yang sakit keras, dengan berat hati anggota keluarga Karmaka mengabulkan permintaan itu.
Pada saat itu, kata Karmaka, perutnya yang telah membesar menandakan penyakit liver yang dideritanya sudah gawat. Saat itulah muncul keinginan Karmaka untuk mengakhiri hidup. Sambil duduk dia mencopoti alat-alat bantu medis, kemudian menundukkan kepala untuk menekan hatinya. Saat itu dia merasa pembuluh darahnya serasa ada yang pecah. “Saat itu saya yakin akan mati. Saya kemudian berdoa kepada Tuhan,” kata pria bernama asli Kwee Tjie Hoei itu.
Menurut Karmaka, doa itu masih terkenang hingga kini. Ada dua hal yang dimintanya. Yang pertama, minta maaf kepada Tuhan yang ditinggalkannya sejak 1964. Yakni, ketika adiknya, Kwee Tjie Ong, meninggal dunia akibat kecelakaan beberapa hari sebelum diwisuda menjadi sarjana.
Hubungan emosional yang erat dengan sang adik membuat Karmaka ‘marah’ besar kepada Tuhan. Sebab, demi adiknyalah Karmaka mengalah tidak masuk ITB jurusan elektro yang diidam-idamkan. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat ayahnya hanya bisa membiayai pendidikan tinggi satu anak.
Karmaka bangga adiknya menunjukkan prestasi yang brilian di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia. Ketika mahasiswa lain harus ditempatkan PTT di pedesaan, adiknya justru langsung menjadi asisten dosen dan meraih beasiswa spesialis internist (penyakit dalam).
Setelah terjadi kecelakaan, Karmaka mempertanyakan keputusan Tuhan mengambil nyawa adiknya yang disayangi keluarga. “Padahal, kami sekeluarga rajin ke gereja tiap minggu,” kenangnya. Doa kedua yang dipanjatkan Karmaka adalah agar Tuhan mengampuni dosa keduanya. Yakni, pada 1966, saat terjadi krisis ekonomi, kepala kantor Bank NISP sampai dicekik dan diculik oleh masyarakat. “Kami harus memberhentikan kurang lebih 3.000 karyawan NISP yang loyal dan setia,” lanjutnya.
Di antara dua doa meminta ampun tersebut, Karmaka juga masih sempat menantang Tuhan. “Kalau memang Tuhan ada, maka akan ada donor dalam tiga hari ini,” katanya. Untung, upaya Karmaka mengakhiri hidup itu diketahui perawat yang kemudian menyelamatkannya.
Setelah kejadian tersebut, dokter tidak lagi percaya kepadanya dan menugasi dua suster untuk menjaganya. Hari pertama setelah kejadian itu, Karmaka melihat air seninya masih kuning. Tanda-tanda pembuluh darah yang pecah adalah air seni menjadi merah atau kehitaman.
Demikian juga hari kedua. Lalu, pada hari ketiga terjadi kejutan. Seorang suster mengabarkan ada donor yang siap memberikan livernya untuk Karmaka. “Kabar itu seperti jawaban dari Tuhan atas doa-doa saya,” kata Karmaka yang sukses menjalani operasi transplantasi hati itu.
Ada cerita yang menggambarkan kerja keras Karmaka. Waktu berada di Lombok, saat sedang berlibur bersama keluarga, Karmaka jatuh. Dia jatuh dari tempat tidur saat bangun pagi-pagi karena ingin buru-buru ke bandara. Tulang pahanya retak. Sakitnya bukan main. Karmaka tidak bisa berjalan. Pagi itu terpaksa dia dipapah sambil berjalan mengenakan kruk.
Setiba di Bandung, Karmaka ditangani dokter dan diharuskan istirahat di tempat tidur selama tiga bulan. Dia tidak boleh bergerak ke mana-mana. Itu tidak bisa diterima oleh Karmaka yang sangat aktif dan mobile itu. Maka, dia datang ke ahli akupunktur, dr Sim Kie Ie.
Dalam pengobatannya, dr Sim Kie Ie selalu menggunakan akupunktur dan obat gosok. Yakni, arak yang digosokkan setiap hari ke bagian pahanya. Selama pengobatan tersebut, Karmaka masih tetap masuk kantor, meski harus menggunakan kruk.
Minggu kedua dia mencoba melepas salah satu kruknya. Ternyata bisa. Minggu ketiga yang satu lagi dia lepas. Juga bisa. Maka, dalam tiga minggu Karmaka sudah kembali bisa berjalan normal. Tidak harus tiga bulan berbaring di tempat tidur seperti yang diperkirakan semula. Kembali itu membuktikan bahwa kemauan (mind power) sangat penting dan bisa meningkat kan hasil secara luar biasa.
3. Steve Jobs
Sosok ini dikenal sebagai pribadi yang jenius, perfeksionis, dan kreatif, khususnya dalam bidang komputer. Perjalanan hidupnya yang berliku dan visi-visi hidupny dapat dilihat dari pidatonya di hadapan para wisadawan dan wisudawati di Standford University.
“Saya merasa terhormat berada di sini bersama Anda pada acara wisuda di salah satu universitas terbaik di dunia. Terus terang, ini saat terdekat saya dengan sebuah acara wisuda perguruan tinggi. Hari ini saya ingin berbagi tiga cerita dalam kehidupan saya.
Cerita pertama adalah mengenai menghubungkan titik-titik. Saya drop out dari Reed College setelah enam bulan pertama, tapi saya masih tetap berada di kampus selama 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar berhenti.
Saya belajar tipe tulisan serif dan san serif, tentang menvariasikan jarak antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat para tipografis hebat menjadi semakin hebat. Saya tidak pernah berpikir kaligrafi ini akan bermanfaat dalam kehidupan saya kelak.
Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang Macintosh yang pertama, pelajaran itu muncul kembali di kepala saya. Hasilnya, Mac menjadi komputer pertama dengan tipografi yang indah. Andai saya tidak pernah putus kuliah dan kemudian ikut kelas kaligrafi, maka Mac tidak akan punya beragam tulisan yang indah.
Cerita kedua saya adalah mengenai cinta dan kehilangan. Saya merasa beruntung, karena saya menemukan apa yang sangat ingin saya lakukan dalam hidup sejak usia muda. Woz dan saya memulai Apple di garasi orang tua saya saat saya berumur 20 tahun.
Kami bekerja dengan keras, dan dalam 10 tahun Apple telah berkembang menjadi perusahaan senilai 2 milyat dolar dengan lebih dari 4 ribu pegawai. Kami baru saja meluncurkan karya terbaik kami Macintosh-setahun yang lalu, dan saya baru berusia 30 tahun, kemudian saya dipecat.
Apa yang telah menjadi focus kehidupan saya telah hilang dan peristiwa itu sangat menyakitkan. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan selama beberapa bulan. Tetapi secara perlahan saya mulai dapat memikirkan sesuatu. Saya telah ditolak, namun saya masih mencintai apa yang saya kerjakan. Jadi saya memutuskan untuk memulai lagi.
Saya tidak sadar saat itu, tetapi ternyata dipecat dari Apple merupakan hal terbaik yang pernah terjadi dalam diri saya. Beban berat menjadi sukses digantikan perasaan enteng menjadi orang baru. Hal ini membebaskan saya untuk memasuki salah satu periode paling kreatif dalam hidup saya.
Selama lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah perusahaan bernama Next dan sebuah perusahaan lain bernama Pixar, yang kini menjadi studio paling sukses di dunia. Dalam salah satu peristiwa yang luar biasa, Apple membeli Next, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di Next menjadi jantung kehidupan Apple.
Dipecat dari Apple memang sebuah pil pahit, namun saya pikir memang ini diperlukan. Terkadang kehidupan memukul kita dengan keras. Jangan hilang kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya bertahan adalah saya mencintai apa yang saya lakukan.
Cerita ketiga adalah mengenai kematian. Mengingat mati adalah alat paling penting yang pernah saya lakukan untuk membantu saya membuat pilihan besar dalam hidup. Sebab hampir segala hal-semua ekspektasi eksternal, semua kebanggaan/kesombongan, semua ketakutan akan rasa malu atau kegagalan- semua itu akan mengerut di depan wajah kematian. Mengingat mati adalah cara terbaik saya untuk menghindarkan perangkap berpikir bahwa kita akan kehilangan sesuatu. Kita sudah telanjang, tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati kita.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosa mengidap kanker. Pada dokter memberitahu saya bahwa hampir dipastikan ini jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan harapan hidup saya hanya enam bulan lagi. Tapi kemudian saya menjalani operasi dan baik-baik saja hingga saat ini. Itu adalah saat terdekat saya dari kematian.
Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang ingin pergi ke surga tak ingin mati untuk pergi ke sana. Namuan kematian adalah takdir bagi kita semua. Tak pernah ada yang bisa lolos dari kematian, kematian adalah penemuan tunggal terbaik kehidupan.”
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”
_________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


