Sore itu, tiba-tiba terdengar suara tangisan melengking dari depan rumah. Saya menengoknya, ternyata yang menangis adalah Arya, tetangga sebelah rumah yang sedang bermain dengan temannya di teras rumah saya.
Kemudian Ibunya datang sambil berlarian kecil dan bertanya, “Mengapa kamu menangis?” Dengan masih terisak-isak, si Arya mengungkapkan kekesalan hatinya pada bundanya, “Bu, mobil-mobilanku rusak!” “Loh, siapa yang merusaknya Arya?” tanya sang ibu “Jaka, Bunda,” timpal Arya singkat, sambil merengut dan sewot. “Ya, sudah… Insyaallah, nanti Bunda akan bicara dengan bundanya Jaka, barangkali Beliau bisa mengerti.” Selang beberapa saat, datanglah bunda Jaka.
Dengan wajah merah dan setengah malu, dihampirinya putranya yang baru berusia 4 tahun itu. Ia mengatakan pada bunda Arya, “Mohon ma’af bu, kelakuan anak saya memang sudah keterlaluan. Masalah mobil yang rusak, nanti akan saya ganti.” “Memang, Jaka itu ndak pernah awet kalau punya mainan, terutama mobil-mobilan. Ada saja yang yang dilakukan, mulai dari mencopot rodanya, membuka tempat battere hingga melepas lampu dan bagian yang dianggapnya merupakan asal dari suara mobil-mobilan itu saat dimainkan. Hampir setiap kali saya belikan, selang dua-tiga hari mainan itu sudah rusak karena dipreteli (dilepas satu persatu bagian-bagian kecil dari mainan itu).”
Mengapa Anak Yang Merusak Mainannya Dianggap Nakal ?.
Bagi kebanyakan orang, Jaka termasuk anak yang nakal. Betapa tidak, mainan yang kelihatannya bagus dan enak dimainkan, malah ‘dirusak’.
Sekarang persoalannya adalah, apakah benar bahwa Jaka bermaksud merusak mainannya tersebut? Bila Jaka tidak bermaksud merusak mainan tersebut, mengapa ia melakukan ini? Toh Kalau kita lihat, mainan itu jelas rusak dan tidak bisa dimainkan lagi seperti sediakala. Tetapi jika ia bermaksud merusaknya, mengapa sebatas dibongkar dan bukannya dibanting, diinjak atau dibuang sekalian?
Deretan pertanyaan di atas cukup menggelitik untuk kita cermati. Jaka tampak merusak mainan yang baru dibeli atau dikenalnya. Karena bagi Jaka, mainan baru ini cukup menarik perhatian dan menggoda rasa penasarannya.
Suara yang keluar dari dalam mobil mainan dan gerakan mobil yang lincah, membuat Jaka bertanya-tanya dalam hatinya, “Kok bisa ya, mobil mainan sekecil ini bisa bersuara dan berjalan tanpa didorong?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seringkali muncul di benak Jaka saat ia melihat mainan baru. Dorongan untuk mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya ini ditunjukkan dengan membongkar mainan hingga ia puas. Saat ia telah menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya itu, maka Jaka merasa urusannya sudah selesai.
Jaka masih kecil, dan ia hanya bisa membongkar paksa mainannya tanpa perlu berpikir untuk memasangnya kembali. Kita melihat bahwa mainan kalau sudah berada di tangan Jaka pastilah rusak. Mainan yang sudah dibongkar dan tidak dipasang kembali ke tempatnya semula, menjadi salah satu justifikasi bahwa Jaka memang nakal.
Jaka dianggap tidak bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Bagi Jaka, apalah artinya lari dari tanggung jawab, bila ia sendiri tidak tahu apa arti tanggung jawab?.
Jaka dianggap nakal dengan perilakunya yang aneh, oleh kebanyakan orang, karena beberapa hal, diantaranya :
- Mainan seolah sengaja dirusak. Hal ini didukung oleh fakta bahwa mainan itu sudah tidak bisa dimainkan lagi secara normal dan tampaknya satu bagian dengan bagian yang lain sudah lepas dan berantakan.
- Kejadian ‘merusak’ mainan tersebut terkesan berulang-ulang, baik mainan itu milik pribadi maupun milik orang lain.
- Pada saat anak sedang merusak mainan, dia cenderung tidak peduli dengan orang lain. Baginya merusak mainan butuh konsentrasi. Bila ada orang lain yang mengingatkan, terkesan tidak digubris.
Penyebab Anak Suka Merusak Mainan
- Salah satu karakteristik Anak adalah memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu yang baru dikenalnya.
- Pola pikir anak masih perseptual dan imajinatif, maksudnya apa yang dilakukan anak masih berkutat pada persepsinya sendiri dan warna imajinasinya sangat kental.
- Sebagian besar anak yang kreatif cenderung memanfaatkan apa saja yang dilihatnya untuk obyek eksperimen. Termasuk merusak mainan bagi anak adalah kegiatan eksperimen.
Hal-hal Yang Mendukung Anak Hobby Merusak Mainan
- Anak belum memahami arti tanggung jawab. Yang ia lakukan hanyalah menyalurkan hasrat rasa penasarannya terhadap benda tertentu.
- Respon orangtua terhadap barang yang telah dirusak ananda dan pengenalan ananda terhadap reaksi orangtuanya. Pada kondisi seperti ini orangtua terkesan melindungi ananda dan mengalihkan tanggung jawab anak kepada dirinya, sehingga anak tidak merasa bersalah atas perilakunya dan tidak perlu berinisiatif untuk mengganti barang itu dengan yang utuh, toh orang tuanya cukup tanggap.
- Sebagian orangtua beranggapan bahwa sikap anak seperti ini adalah bentuk kreativitas tanpa peduli untuk mewadahi ativitas kreatif tersebut secara konstruktif.
- Orangtua cenderung meremehkan harga mainan yang murah dengan berdalih setiap saat bisa membeli lagi jika sudah rusak atau hilang.
Perlu diketahui bahwa Jaka adalah satu anak dari sekian banyak anak yang ada di dunia ini, yang rasa ingin tahunya cukup besar. Terutama untuk barang yang dianggapnya asing dan baru dikenalnya.
Rasa ingin tahu pada anak-anak sering diterjemahkan dengan bergerak aktif, membongkar mainan, menekan bagian tertentu dari barang- barang elektronik (coba dan salah) dan atau mencoba ‘menyentuh’ benda apapun yang dirasa menggugah rasa ingin tahunya.
Rasa ingin tahu yang besar berimplikasi pada kemauan yang kuat untuk mendapatkan jawabannya. Sementara jawaban yang tidak kunjung memuaskan dirinya akan melahirkan sikap penasaran yang terus menerus.
Itu artinya, bila Jaka atau anak dengan tipe yang sama belum menemukan jawaban atas rasa penasarannya, maka ia akan melakukan ini secara terus menerus, sehingga perilaku merusak mainan menjadi trade mark bagi dirinya.
Akankah kita membiarkan perilaku ini terjadi pada Anak seusia Jaka yang lain dan pada akhirnya menjadi kebiasaan? Sungguh sebutan nakal pada anak yang suka membongkar paksa mainannya adalah salah alamat. Bahkan membiarkannya tanpa bimbingan dan arahan untuk tidak berbuat demikian adalah bentuk pemasungan perkembangan anak.
Tips Agar Anak Tidak Merusak Mainan
Di bawah ini ada beberapa cara agar anak kita tidak terbiasa membongkar mainan tanpa tanggungjawab untuk mengembalikannya. Setiap memberi mainan baru, orangtua hendaknya menjelaskan dengan bahasa yang sederhana tentang mainan ini secara detil, diantaranya :
a. Menunjukkan Perbandingan
Menunjukkan perbandingan antara mainan yang telah rusak dan mainan baru. Beri kesempatan anak untuk memilih dan tanyakan perasaan anak saat bermain dengan mainan yang baru dibeli yang kondisinya masih baik serta bagiamana pula gambaran perasaannya saat ‘dipaksa’ main dengan mainan yang telah rusak dan usang.
b. Memilihkan Mainan yang Bisa Bongkar Pasang
Membelikan mainan terutama mobil-mobilan yang memang bisa dibongkar pasang sebagai bentuk mewadahi aksi kreatif anak kita. Ajarkan cara membongkarnya dan memasangnya kembali.
c. Arahkan Anak untuk Selalu Minta Ijin
Arahkan anak kita agar selalu minta ijin saat meminjam mainan milik temannya dan mengucapkan terima kasih bila hendak mengembalikannya. Selain itu pada saat meminjam mainan milik teman, maka anak berkewajiban menjaganya.
d. Falsafah Sederhana
Beri falsafah sederhana bahwa saat meminjam barang teman dalam kondisi baik, maka baik pula kondisinya saat mengembalikannya.
e. Membangun Kepedulian Anak
Menumbuhkan kepedulian (baca : rasa memiliki) terhadap barang-barang pribadinya, sehingga muncul sikap perhatian dan ingin merawatnya dengan baik.
f. Mengambil dan Mengembalikan Mainan
Biasakan agar anak mengambil dan mengembalikan mainan ke tempat semula sebagai bentuk mengembangkan sikap disiplin.
g. Membangun Rasa Tanggung Jawab Anak atas Perilakunya.
Mengganti mainan yang rusak adalah bentuk tanggung jawab, tetapi penekanannya pada tanggung jawab mandiri. Misalnya anak harus mengambil tabungannya sendiri untuk mengganti mainan milik teman yang telah dirusaknya.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”
_________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


