Peringatan itu sudah tiga kali kami sampaikan kepada anak-anak, “Nak, bagaimana sikap yang aman terhadap gelas itu?”, “Hati-hati dengan gelas yang kamu pegang”, “Awas! Gelas itu bisa pecah lho…” Namun anak itu seakan-akan tidak mendengarkan seluruh omongan kami.
Akhirnya gelas itu jatuh dan pecahan kaca kecil-kecil telah berserakan memenuhi lantai ruangan. Tidak ayal lagi emosi, jengkel dan marah sudah tidak tertahan lagi. Akhirnya muncul kata-kata, “Kamu itu kalau dibilangi yang nurut yah”, atau “Memang kamu sengaja untuk menjatuhkan gelas tersebut, supaya ibu marah padamu”, dan lain-lain.
Sementara itu Faruk (3,5 th) yang telah ketakutan dengan pecahnya gelas tersebut semakin takut dan akhirnya meledakklah tangisnya. Apakah memang Faruk tidak mendengarkan perkataan mamanya? Atau ia bermaksud untuk memecahkan gelas supaya ibunya marah kepadanya?
Dari sudut pandang orangtua, perilaku Faruk memang terlihat seperti tidak mendengarkan perkataan ibunya, dan ia sengaja membuat ibunya marah karena peringatan kepadanya telah diulangi 3 kali. Tetapi sebagai orang yang telah dewasa tampaknya kita perlu juga untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda.
Anak-anak seusia Faruk (3,5 th) memang mempunyai naluri untuk eksplorasi yang besar terhadap lingkungan sekelilingnya. Seringkali perhatiannya terhadap suatu objek menghalanginya untuk fokus pada objek lain.
Sungguh perbuatan aniaya jika seorang anak yang hanya berniat untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungan sekitarnya dan kebetulan benda yang ia pegang pecah, kemudian tiba-tiba kita menilai bahwa dirinya tidak suka menurut, sengaja menjatuhkan gelas supaya pecah, atau sengaja membuat orangtuanya marah.
Dengan melihat kejadian tersebut dari sudut pandang anak, maka hal ini membuka kesempatan bagi kita untuk berpikir lebih strategis, yaitu berpikir tentang nilai yang dapat kita tanamkan pada diri anak.
Pertama, kita dapat berkata kepada anak saat gelas tersebut pecah berserakan, “Ibu sedih, karena gelas adik sekarang pecah, tetapi Alhamdulillah adik tidak terkena pecahannya” (sambil mendekap anak untuk membantu menenangkannya). Cara ini dapat memberitahu anak bahwa ibu sedih karena sekarang gelasnya pecah, namun kita juga berempati bahwa adik selamat dari pecahan gelas tersebut.
Kedua, orangtua dapat membuat garis pembatas yang melingkari wilayah-wilayah yang terserak pecahan gelas. Kemudian meminta anak untuk berada diluar lingkaran tersebut. Cara ini akan membangun kecerdasan logikanya bahwa wilayah lingkaran sangat berbahaya karena terdapat pecahan gelas.
Pada banyak peristiwa seorang ibu sambil marah-marah meminta anaknya untuk menjauh karena ia takut putranya terkena pecahan. Sementara anak kurang mengetahui mana daerah berbahaya dan tidak berbahaya. Akhirnya anak memahami sikap ibunya tersebut sebagai sikap yang tidak mau lagi dekat dengan dirinya.
Ketiga, dengan menggunakan sandal atau sepatu anak dilibatkan di dalam membersihkan pecahan gelas tersebut. Cara ini akan sangat baik di dalam membangun rasa tanggung jawab pada diri anak. Bahwa setiap peristiwa yang terjadi karena dirinya, maka ia juga akan bertanggung jawab terhadap efek akhirnya. Namun cara ini pun harus tetap dibawah pengawasan orangtua.
Dari peristiwa gelas pecah di rumah, sebenarnya kita dapat membangun beberapa nilai moral penting pada diri anak kita. Anak melihat respon yang bermoral dari seorang ibu yang menjumpai putranya memecahkan gelas, anak dapat membangun batasan permasalahan yang perlu diperhatikan, dan anak lebih bertanggung jawab terhadap apa yang telah ia lakukan.
Saat anak melakukan kesalahan, saat itulah muncul kesempatan bagi kita untuk membangun nilai yang bermanfaat bagi hidup mereka.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”
_________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


