Moral Feeling

P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pada era 80-an adalah jargon yang paling banyak dibicarakan oleh warga Negara Indonesia. Betapa banyaknya energi, biaya, dan waktu yang telah dikeluarkan untuk penataran P4 ini, dengan satu tujuan membangun manusia Indonesia yang berjiwa Pancasila.

Penataran ini tidak saja diwajibkan bagi pegawai-pegawai pemerintah, bahkan siswa baru dari jenjang menengah pertama hingga perguruan tinggi harus mengikuti penataran P4 ini sebagai prasyarat mereka mengikuti pelajaran. Banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan sertifikat penatar P4 karena dapat dijadikan pegangan untuk memperlancar segala urusan hidupnya. Dari mengurus kenaikan pangkat hingga mengurus pencairan dana bantuan pemerintah.

Apa yang tersisa untuk hari ini dari gerakan besar P4 di atas? Sudahkah kita menjadi manusia-manusia yang berjiwa Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya dalam kehidupan kita sehari-hari, setelah dahulu selama berjam-jam telah mengikuti penataran P4?.

Dengan penataran-penataran di atas kita memang mengetahui banyak butir-butir Pancasila beserta cara pengamalannya (moral knowing), namun kita tidak mempunyai hasrat dan kemauan untuk sekedar mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Disinilah sebenarnya kita menyadari bahwa penataran-penataran itu baru menyentuh aspek moral knowing dalam pembangunan moral seseorang. Ia belum mampu membangun kebutuhan akan nilai-nilai moral dalam diri seseorang. Kebutuhan akan nilai moral itu adalah aspek moral feeling dari pembentukan moral.

Moral Feeling merupakan penguatan aspek emosi seseorang untuk menjadi manusia yang berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh seseorang, yaitu kesadaran akan jati diri, percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving good), pengendalian diri (self control), dan kerendahan hati (humility).

Seseorang yang telah mengetahui suatu kebenaran belum tentu ia mempunyai keinginan untuk melakukannya. Karena keinginan berbuat kebenaran bersumber dari rasa cinta kebenaran (loving good).

Rasa cinta inilah yang telah disebut oleh Piaget sebagai sumber energi pengetahuan moral untuk dapat bergerak menjadi aktifitas moral.

Dalam bahasa agama menumbuhkan kecintaan terhadap kebenaran adalah mendorong fitrah manusia untuk tetap tumbuh subur dalam hati sanubari manusia. Karena manusia diciptakan dalam kondisi fitrah dan fitrah adalah kecenderungan kepada kebenaran.

Aspek loving good dalam pendidikan moral memang yang paling sulit untuk dibangun, karena aspek ini menyangkut wilayah emosi. Wilayah emosi ini dibagi menjadi dua unsur, yaitu self censorship (kontrol internal) dan pro-sosial.

Kontrol internal berkaitan dengan adanya perasaan bersalah dan malu. Kontrol ini akan mencegah seseorang dari perilaku buruk dan mendorong untuk selalu berkeinginan memperbaiki diri. Ada sebuah pepatah yang mengatakan, character is what you are when no one is looking (karakter atau moral adalah apa adanya kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat). Jadi, seseorang ingin berlaku jujur karena adanya kontrol internal yang kuat untuk tidak berlaku curang.

Mari kita memahami sebuah hadits berikut ini: sembahlah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak dapat melihat-Nya sesungguhnya Dia melihat kamu. Hadits ini mempertegas mengapa kita harus mempunyai control internal, karena kita mempunyai Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.

Pro-sosial berkaitan dengan emosi yang timbul karena melihat kesulitan atau penderitaan orang lain, dan ini bisa disebut dengan rasa empati dan simpati. Seseorang yang melihat sebuah bencana alam dengan beberapa korbannya, kemudian ia tersentuh dengan perasan kasihan maka ia akan mudah untuk melakukan kebaikan.

Moral feeling seperti kontrol internal (rasa bersalah dan malu) dan pro-sosial (empati dan simpati) seharusnya sudah mulai dibangun semenjak masa kanak-kanak. Mereka harus mulai belajar merasakan nikmatnya berbuat baik dan tidak nyamannya jika melakukan perbuatan yang kurang baik. Mereka juga perlu merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya yang tidak mempunyai orangtua atau tidak memiliki ekonomi yang baik.

`Membangun kontrol internal ternyata membutuhkan perjuangan batin yang berat. Dalam buku Pendidikan Karakter, Ratna Megawangi menulis sebuah cerita tentang seorang mahasiswa IPB dengan inisial M. Suatu saat ia mengikuti ujian fisika, ia telah mempersiapkan dengan baik ujian tersebut. Dari 10 soal yang diberikan dosennya, ia telah menyelesaikan 8 soal dengan baik. Tinggal 2 soal yang belum dapat ia selesaikan, karena ia lupa sama sekali akan rumusnya.

Seandainya ia dapat mengingat rumus tersebut , pasti ia akan mendapatkan nilai sempurna 10. Ia tidak mau mencontek apalagi bertanya kepada temannya. Tiba-tiba kawan di depannya tanpa sengaja mengangkat kertasnya untuk diperiksa ulang, dan lembar ujiannya tampak dengan jelas oleh M, termasuk rumus yang ia lupakan.

Awalnya ia gembira karena mendapatkan rumus yang dilupakannya. Segera ia menyelesaikan 2 soal yang belum sempat ia kerjakan. Namun setelah mengerjakan keduanya terjadilah peperangan batin dalam diri M. Apakah ia tetap menggunakan rumus tersebut dan dirinya mendapatkan nilai sempurna 10, atau ia menghapus kembali jawabannya dan hanya akan mendapatkan nilai 8.

Selama hampir 30 menit terjadi tarik-menarik antara dirinya dengan dua jenis keputusan di atas. Akhirnya ia memutuskan untuk mendapatkan nilai sempurna 10. Ketika lembar jawaban hendak ia kumpulkan, entah kekuatan darimana tiba-tiba ia mengubah keputusannya dan segera menghapus kedua jawaban yang telah ia kerjakan.

Ia sempat ditegur oleh pengawas ujian karena dianggap berlaku kurang jujur mencuri waktu, namun akhirnya M justru merasakan kegembiraan yang luar biasa saat keluar ruangan tersebut, karena ia telah membuat keputusan sesuai dengan hati nuraninya Alangkah indahnya saat kita telah mempunyai pengetahuan tentang nilai-nilai moral, kemudian kita juga mempunyai keinginan dan kontrol yang kuat untuk melakukan sesuai dengan nilai-nilai moral yang kita ketahui.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”

_____________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.