Saya pernah mengunjungi sebuah kota di Jawa Barat untuk tugas training bersama dua orang teman. Pada malam kedua kami berada di kota tersebut, kami ingin berjalan-jalan keliling kota dengan mengendarai sepeda motor sambil membeli beberapa peralatan untuk proses training esok hari.
Saat kami tengah menikmati suasana kota yang ramai dan terang, tanpa disadari kami memasuki sebuah jalan yang belum pernah kami lewati sebelumnya. Kami merasa nyaman saja dengan kondisi tersebut, walaupun beberapa orang di pinggir jalan telah melambai-lambaikan tangan ke arah kami.
Tiba-tiba peluit polisi menghentikan perjalanan kami. Kami terkena tilang karena telah memasuki jalan satu arah dengan arah kami yang berlawanan. Kami memang tidak melihat rambu satu arah walaupun banyak orang telah melambaikan tangan mereka. Toh kami tidak menyadari arti dari lambaian tangan mereka.
Seorang anak yang belum mengetahui dan belum diberi tahu tentang nilai-nilai moral serta pentingnya kesadaran akan nilai tersebut, barangkali seperti kami yang tersesat jalan dan memasuki jalan satu arah dengan arah kami yang berlawanan. Anak tersebut akan nyaman saja melakukan tindakan yang kurang bermoral walaupun orang lain kurang senang jika ia melakukannya.
Seperti seorang anak yang bersalaman dengan orang lain. Tidak ada jaminan ia melakukannya dengan cara yang baik tanpa kita pernah mengajarinya cara bersalaman yang baik. Disinilah pentingnya mengetahui nilai-nilai moral dalam proses pendidikan moral anak.
Moral Knowing sebagai aspek pertama pendidikan moral memiliki enam unsur, yaitu kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), penentuan sudut pandang (perspective taking), logika moral (moral reasoning), keberanian mengambil dan menentukan sikap (decision making), dan pengenalan diri (self knowledge).
Keenam unsur di atas adalah komponen-komponen yang harus diajarkan kepada siswa untuk mengisi ranah kognitif mereka.
Akhir-akhir ini berkembang perasaan yang skeptis terhadap aspek pertama dari tiga aspek pendidikan moral ini. Mereka menganggap aspek ini sebagai penghambat pendidikan, seakan-akan kegagalan pendidikan moral selama ini disebabkan oleh aspek pertama ini.
Padahal latar belakang sesungguhnya kegagalan tersebut adalah berhentinya para pendidik di dalam pendidikan moral anak-anak pada aspek pertama saja. Mereka menganggap telah melaksanakan tugas pendidikan moral jika mereka telah memenuhi tanggung jawab mereka dengan menyampaikan materi adab dan budi pekerti.
Orangtua atau guru yang telah mempunyai moral yang baik memang telah mempunyai modal yang baik untuk membangun moral anak. Tetapi mereka akan sangat merasakan kesulitan untuk mendidik moral anak-anak jika tidak mengetahui tentang definisi sebuah moral, tidak mampu mengidentifikasi indikator-indikator sebuah moral dan alasan mengapa moral perlu ditanamkan.
Sebaliknya orangtua atau guru yang mempunyai moral yang baik, terbiasa melakukan tindakan-tindakan yang bermoral serta menguasai nilai-nilai moral dalam bentuk definisi, indikator-indikator tindakan suatu moral serta alasan pentingnya sebuah moral akan lebih mudah dan lebih cepat dalam mendidikkan moral tersebut kepada anak-anaknya.
Moral Knowing bukanlah pintu bagi rumah moral kita, tetapi ia adalah bagian dari rumah tersebut. Pastikan bagian rumah ini telah kita miliki.
Drs. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral bagi Anakku”
________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


