Moralitas Objective dan Hati Nurani (Usia 20 Tahun – Dewasa)

Hari itu Nabi Muhammad SAW merencanakan untuk menyampaikan dakwah kepada kabilah Thoif. Dengan mengucapkan Bismillah nabi memulai dakwahnya. Namun respon kabilah tersebut sungguh di luar perkiraan nabi. Mereka mengusir nabi dengan kasar dan melempari beliau dengan kotoran dan bebatuan. Lemparan batu-batu tersebut telah membuat kaki dan pelipis beliau berdarah.

Saat beliau tengah beristirahat di bawah pohon kurma datanglah malaikat Jibril yang menawarkan kepada beliau untuk menghancurkan kabilah tersebut sebagaimana telah dialami oleh kabilah-kabilah dari nabi-nabi terdahulu yang telah Allah hancurkan. Tawaran malaikat itu akhirnya ditolak oleh Nabi dan bahkan beliau mendoakan kepada Allah untuk kabilah tersebut, “Ya Allah, berilah hidayah bagi kaumku ini, sesungguhnya mereka belum mengetahui.”

Tahapan perkembangan moral selanjutnya adalah moralitas objective dan hati nurani, yaitu prinsip moral yang didasarkan pada kaidah-kaidah kebenaran dan hati nurani. Cerita nabi Muhammad di atas adalah contoh paling indah bagi tahapan tertinggi dari perkembangan moral manusia.

Sebuah teladan moral yang tidak dibangun dari kepentingan pribadi, pengakuan teman, kebenaran sosial tertentu. Tetapi mengacu pada sebuah kebenaran obyektif, kebenaran sejati dari Allah SWT dan suara hati nurani.

Sebenarnya Rasulullah dapat saja menerima tawaran malaikat untuk menghancurkan kabilah Thoif tersebut, tetapi tawaran tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai dakwah dan hati nurani beliau. Nabi lebih memilih memaafkan kabilah tersebut dan bahkan mendoakannya. Jika beliau menerima tawaran tersebut, maka kita tidak akan pernah membaca di dalam sirah Nabi sebuah kabilah yang bernama Thoif masuk Islam.

Kolhberg berkomentar tentang tahapan perkembangan moral tertinggi ini. Yaitu apabila ada konflik antara hukum atau peraturan dengan hati nurani, maka seseorang yang telah sampai pada tahapan ini akan menuruti apa kata nuraninya, walaupun ia harus menanggung resiko pribadi. Karena komitmennya pada kepercayaan dan kebenaran sejati tidak pandang bulu.

Tahapan ini dapat dicapai pada usia 20 tahun atau sesudah umur tersebut. Mereka yang sudah mencapai tahapan ini akan mengacu kepada moral hati nurani. Mereka berbuat baik karena hati nuraninya berkata demikian, bukan karena kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok atau sistem sosial tertentu.

Walaupun moralitas hati nurani ini merupakan tahapan yang tertinggi, namun moralitas ini harus dibangun sejak kecil. Sejak kecil seorang anak sudah harus dibiasakan untuk merasakan dan mencintai kebajikan, sehingga pendidikan moral yang melibatkan aspek feeling dan loving dapat membantu anak untuk mencapai tahapan perkembangan moral yang tertinggi ini.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari Buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”

_________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.