Kursi adalah satu dari sekian barang perabotan rumah tangga. Kursi berfungsi sebagai tempat duduk, baik dalam suasana santai atau sedikit formal. Kursi memiliki beragam model yang dibentuk berdasarkan kebutuhan.
Ada kursi untuk tamu yang biasanya dipajang di ruang tamu, ada juga kursi makan, kursi teras, kursi taman, kursi kantor khususnya untuk paket komputer yang didesain secara mobile dan bahkan kursi roda yang diperuntukkan bagi pasien rumah sakit, orang yang sudah lanjut usia dan penyandang cacat kaki.
Dari gambaran di atas jelas bahwa kursi berfungsi untuk tempat duduk. Siapapun yang mengalihfungsikannya tanpa alasan yang jelas dan bukan pula bersifat darurat, secara sosial akan dianggap aneh.
Berbeda dengan anggapan umum, Adi, begitu Ibunya memanggil, memiliki keunikan tersendiri, kursi baginya adalah tempat mengeksplorasi keinginannya. Naik- turun kursi adalah hal biasa.
Siang itu terasa berbeda, Adi begitu asyiknya naik-turun kursi. Para tamu yang kebetulan bertandang ke rumahnya, hanya bisa tertegun dan sedikit gemas melihat tingkah polanya. Perilaku ini sudah sekitar dua tahun dilakoni Adi.
Bagi kebanyakan orang, tingkah laku Adi yang suka naik-turun kursi membuat perasaan kita capek saat melihatnya. Kita mungkin hanya bisa bergumam, “kayak nggak ada kegiatan lain aja.” Sudah capek dan tidak jelas lagi orientasi permainannya.
Tapi berbeda bagi Adi, ia tahu bahwa kursi memang tempat duduk. Namun, jika dicoba untuk dinikmati tidak dari sekedar tempat duduk biasa, maka Adi menemukan banyak fungsi kursi dalam kaca mata imajinasinya.
Anak seusia Adi, kurang lebih 3 sampai 6 tahun, sudah diliputi banyak keinginan dan beragam kemauan. Minat anak terhadap sesuatu, misalnya ingin menjadi Pahlawan Bertopeng (Ben 7) yang sering tayang di salah satu stasiun televisi swasta atau keinginan untuk meniru gerakan bela diri Ben 7, sangat dipengaruhi oleh hasil pengamatannya selama ini yang sudah mengendap di alam bawah sadar.
Bahkan eksplorasi minatnya terhadap Ben 7 itu jauh melebihi tayangan yang pernah ia lihat sebelumnya. Kekuatan minat anak (ketertarikan terhadap suatu obyek) dibangun mulai dari proses pengenalan terhadap obyek, adaptasi karakter antara obyek dengan dirinya, dan intensitas tayangan obyek yang dilihat dalam kurun waktu yang lama dan berulang-ulang.
Sehingga tidak mustahil bila semua benda atau barang yang berada di sekitarnya akan dimanfaatkan untuk media eksplorasi diri (menumpahkan keinginanan atau menuangkan ide kreatifnya). Salah satu diantaranya bagi Adi adalah kursi.
Kursi bisa digunakan untuk mobil-mobilan yang bisa dinaiki, didorong agar bisa berjalan dan bisa dibolak-balik agar mirip dengan model mobil yang diidamkannya. Kursi bisa juga digunakan untuk atraksi musik dengan memukul-mukul bagian tertentu agar menimbulkan suara bak sebuah drum.
Kursi bagi anak juga bisa berkembang fungsinya menjadi ajang atau arena petualangan Ninja Warrior, bila anak sudah keranjingan terhadap tontonan aksi outbond game di negara Sakura tersebut.
Persoalannya adalah perilaku anak ini cukup mengganggu bila jumlah kursi di rumah terbatas, kursi menjadi rusak dan kotor serta kondisi ruang keluarga menjadi berantakan, maka pekerjaan Ibu untuk membersihkan dan merapikan perabot rumah tangga semakin panjang dan melelahkan. Belum lagi bila atraksi tersebut diikuti dengan teriakan-teriakan yang ‘tidak jelas’, tentu cukup riskan untuk konsumsi pendengaran kita.
Tidak sedikit orangtua yang merasa terganggu dengan aksi anak naik-turun kursi, sehingga sebagian dari mereka memberi label nakal pada perilaku anak ini, ditambah lagi dengan sikap yang semaunya sendiri dan tidak menggubris omongan orang lain.
Penyebab Anak Suka Naik-Turun Kursi
Apa yang menyebabkan anak suka naik-turun kursi? Padahal perilaku ini cukup melelahkan. Jika kita cermati dari tingkah pola anak, ada beberapa hal yang mendorongnya untuk melakukan ini, diantaranya :
1. Anggapan Anak
Kursi adalah tempat yang bisa diduduki oleh siapapun, termasuk anak. Kursi dengan beragam desain dapat dipolafungsikan sesuai kemauan kita. Demikian pula dengan anggapan anak, kursi bisa digunakan untuk beragam kepentingan dirinya dan terasa nyaman bila dipakai.
2. Sebagai Media Eksplorasi
Karena kursi sebagai tempat yang nyaman, maka seringkali anak nongkrong dan berlama-lama duduk di sini. Keseringan dan lamanya anak menikmati kursi mendorong anak untuk memanfaatkannya sebagai media mengeksplorasi imajinasinya.
3. Merasa Mendapat Tantangan
Gerak dan aktif adalah karakter anak, maka naik-turun kursi baginya bukanlah pekerjaan yang melelahkan. Bahkan sebaliknya, anak merasa ada tantangan disana, karena meskipun hanya kursi, ia merasa sedang berpetualang.
4. Imajinasi Anak
Kursi dengan beragam desain dapat mudah diduduki, didorong, dipindah atau diperlakukan sesuai dengan selera anak, sehingga anak akan tergiur untuk menjadikan kursi sebagai sahabat dalam petualangan imajinasinya.
5. Sumber Inspirasi Anak
Kursi dengan beragam desain dan bentuknya, dapat menggugah selera anak dan sumber inspirasi baginya. Kursi dapat dijadikan model atau obyek bermainnya karena ada kesamaan atau kemiripan bentuk dengan model dalam imajinasi anak.
Solusi
Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa anak masih kental dengan imajinasi, sehingga benda apapun yang dirasa bisa dipakai untuk menyalurkan imajinasinya, maka ia akan menggunakannya untuk menyalurkan imajinasi.
Di bawah ini ada beberapa tips yang bisa digunakan sebagai rujukan dalam mengarahkan anak agar bisa mengelola imajinasinya dengan menggunakan media yang lebih tepat, diantaranya adalah :
1. Memberikan Gambaran kepada Anak Tentang Kegunaan Kursi yang Sebenarnya
Misalnya, kursi hanya boleh dipakai sebagai tempat duduk. Jika kursi dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya, maka kursi akan terlihat bersih dan awet. Tetapi bila kursi digunakan tidak sesuai dengan fungsinya, seperti dijungkir dan dinaiki, maka kursi akan terlihat kotor dan mudah rusak, Mengapa? Itulah bentuk protes dan tangisan dari kursi.
Bila anak bertanya: Kok tidak terdengar teriakan pada saat kursi protes atau tidak terlihat tetesan air mata, kalau dikatakan bahwa kursi bisa menangis? Maka anda bisa mengatakan bahwa kursi tidak memilki mulut dan mata seperti kita, tetapi mulut dan matanya berbeda dan tersembunyi dan hanya sesama kursi yang tahu.
2. Menemani Anak Bermain
Menyempatkan diri untuk menemani anak bermain (mengeksplorasi imajinasi kreatifnya) dengan memanfaatkan tanaman, bebatuan, kertas bekas, tanah liat dan benda-benda di sekitar kita untuk dijadikan obyek yang diinginkan. Ajak ananda untuk berdialog dengan benda hasil kreasinya sehingga anak merasa nyaman dan tersalurkan energi kreativitasnya.
3. Outbond bersama Anak
Mengajak anak ke arena outbond, dengan tujuan agar energi ‘fisik’ anak bisa tersalurkan dengan menggunakan media yang tepat.
4. Memanfaatkan Games sebagai Sarana Edukasi
Bisa memanfaatkan games dalam edutainment di komputer kita dengan pengawasan dan pertimbangan plus-minusnya.
5. Mengajak Anak ke Tempat yang Sering Hadir dalam Obyek Imajinasinya
Misal, tempat bela diri, tempat latihan penempaan fisik anggota militer, outbond & camp area, museum perbintangan (teropong bintang), pantai dengan laut lepasnya dan deretan kapal-kapal layar, Kebon Binatang dan alam pegunungan.
Hal di atas dimaksudkan agar imajinasi anak semakin berkembang dengan panduan obyek realitas. Kegiatan ini diharapkan mampu mengantarkan anak untuk mengenal dunia secara nyata, sehingga konsep berpikirnya semakin mengarah pada realita.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”
_________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


