Nakal Ini dan Cerdas Itu

Di sudut kantin sekolah, tampak ibu-ibu wali murid berkumpul, sesekali terdengar suara renyah sahut menyahut, tapi tidak lama kemudian, mereka kelihatan serius dan agak geram tatkala salah satu dari mereka menyebut nama si Aji. Konon si Aji merupakan ‘primadona’ di sekolah tersebut. Betapa tidak, seringkali wali murid mengeluhkan anak-anak mereka menjadi ‘korban’ tangan si Aji.

“Sungguh si Aji itu sudah keterlaluan, kita para ibu tidak bisa tinggal diam, kita harus melaporkan semua ini kepada Kepala Sekolah” begitu lontaran seorang ibu dengan nada kesal.

Benar! jika sampai Kepala sekolah tidak bisa menindaklanjuti, maka kami akan maju ke tingkat Yayasan, kami semua sudah capek!” ibu Fikri menimpalinya dengan geram.

Namun ada salah seorang dari mereka yang malah terkesan diam dan sedikit tersenyum melihat tingkah pola ibu-ibu yang lantang meneriakkan protes atas perilaku Aji yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Cerita di tersebut menjelaskan bahwa perilaku Aji dianggap menyimpang dan pantas mendapat julukan si nakal.

Pertanyaannya, apa yang menyebabkan Aji dijuluki anak nakal ?, apakah anak seperti Aji harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya ?, apakah anak seperti dia bahkan harus diskorsing atau pada akhirnya harus dikeluarkan dari sekolah ?, apakah rasa gemas dan geram terhadap Aji bisakah membuatnya jera dan tidak nakal lagi ?, lantas, bagaimana kita sebagai orangtua menyikapi persoalan ini?

Kita tidak akan mencari kambing hitam dalam menyelesaikan persoalan. Tetapi, setiap permasalahan mesti ada ujung pangkalnya. Permasalahan Aji tidaklah berdiri sendiri, tetapi sangat terkait dengan keberadaan Aji sekarang ini. Sikap dan prilakunya sangat bergantung dengan sentuhan lingkungan yang mengelilinginya.

Kita harus pandai mencermati, siapakah Aji yang seutuhnya? Jika kita bisa melihat Aji dari sudut pandang Aji sendiri, maka kita telah berhasil masuk melalui pintu yang benar. Aji hanyalah seorang anak yang butuh dukungan untuk berkembang.

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah dan hanif (bersih dan mengenal Tuhan sang pencipta), tetapi Allah mengilhamkan potensi baik dan buruk kepadanya. Perkembangan potensi anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, dan keluarga menjadi lingkungan pertama yang berpengaruh besar terhadap perkembangan anak.

Sedangkan aspek yang harus berkembang pada setiap anak adalah aspek kognitif (berpikir), sosial-moral dan psikomotorik. Ketiga aspek tersebut harus berkembang optimal dan seimbang. Namun, seringkali orangtua lebih menekankan pada perkembangan kognitif dan jarang memperdulikan perkembangan aspek lainnya.

Cerdas disini berarti kecepatan anak dalam mereaksi rangsangan. Kecepatan bereaksi terhadap rangsangan sangat dipengaruhi oleh kerja syaraf otak dalam menerima, mengolah dan mengirim kembali informasi menjadi sebuah reaksi.

Rasional-egosentris (nilai benar dan salah dalam memutuskan sesuatu lebih dipengaruhi oleh pertimbangan pribadi atau dengan kata lain memandang orang lain dari sudut pandang dirinya) menjadi pertimbangan seorang anak dalam melakukan aksinya.

Demikian pula dengan Aji, dia bereaksi karena tuntutan rasionalitas di kepalanya. Rasio seseorang berbeda satu dengan yang lain, tergantung dari isi otak yang dimilikinya. Hal ini memicu perbedaan dan beragamnya sudut pandang dalam menilai satu persoalan.

Berbeda dengan suara hati yang bersifat universal, karena mempertimbangkan atas dasar baik dan buruk dengan sandaran kapasitas spiritual seseorang.

Dalam kasus Aji ini, kita lebih banyak melihat Aji sebagai anak yang cerdas secara kognitif saja, karena kecepatan Aji dalam merespon informasi yang masuk. Saat informasi (rangsangan) yang masuk bernilai baik, maka besar kemungkinan Aji akan bereaksi baik pula. Jika kondisi tersebut terjadi berulang-ulang, maka reaksi Aji menjadi sebuah habituasi (kebiasaan). Bila kebiasaan ini berlangsung dalam kurun waktu yang lama, maka akan mengkristal dan membentuk sebuah karakter.

Karakter yang melekat kuat akan menjadi bagian dari kepribadian seseorang. Karena sifat dari kepribadian seseorang cenderung menetap, maka kualitas respon (keputusan yang diambil) sangat dipengaruhi oleh kualitas kepribadiannya.

Dalam pemandangan sehari-hari, anak nakal seperti Aji sama sekali tidak menunjukkan prestasi akademik, sehingga tidak ada penghargaan sedikitpun yang patut diberikan kepada Aji. Kenyataan ini yang memicu pertanyaan di kalangan Ibu-ibu, mengapa anak nakal seperti Aji dikatakan masih memiliki potensi cerdas ?, padahal tidak ada data di lapangan dan performance yang mendukung pernyataan tersebut.

Mari kita melihat dari sudut pandang yang lain. Anak yang nakal cenderung menonjol dalam komunitasnya. Kemenonjolan ini disebabkan oleh keberaniannya dalam mengekspresikan diri, sehingga keberadaanya seringkali bersifat oposan (mengoposisi diri). Karena itulah anak yang nakal sering berseberangan sikapnya dengan kebanyakan anak-anak yang lain.

Sikap oposan identik dengan sikap kritis dan keberanian memprotes. Sikap Aji adalah bentuk protes terhadap ‘kebijakan’ perlakuan lingkungannya. Sikap ‘protes’ inilah yang akhirnya dianggap oleh kebanyaan ibu-ibu sebagai bentuk kenakalan Aji.

Perlu dipahami bahwa prestasi yang diraih oleh seorang anak, tidak hanya ditentukan oleh kapasitas intelektual yang memadai, tetapi kesadaran dan kemauan juga memiliki andil yang cukup besar. Bahkan poin yang kedua ini yang memiliki pengaruh dominan dalam menentukan kesuksesan seseorang.

Kesadaran untuk berprestasi disini lebih disebabkan oleh pemenuhan kebutuhan harga diri anak. Sementara kemauan berprestasi lebih karena dorongan kebutuhan akan aktualisasi diri. Kesadaran dan kemauan, keduanya berada pada ranah emosi.

Wajar bila kapasitas intelektual belum menjamin anak akan berprestasi dan sukses dikemudian hari, karena anak seperti contoh di atas hanya berkutat pada rasionalitas dirinya. Keleluasaanya dalam berekspresi tanpa pengendalian diri dan kepedulian terhadap orang lain akan berdampak pada terbentuknya sikap semau gue dan mau menang sendiri.

Aji adalah korban dari ketimpangan (ketidakselarasan) perkembangan dari ketiga ranah kepribadian. Bila ditilik dari uraian di atas, maka Aji mengalami hambatan dalam perkembangan sosial-emosi dan psikomotor. Sehingga untuk dua ranah kepribadian yang lain (sosial-emosional dan psikomotor), Aji boleh dikata kurang cerdas.

Cerdas di satu sisi dan kurang cerdas disisi lainnya, lebih banyak disebabkan oleh lingkungan yang membentuknya. Karena lingkunganlah yang memiliki akses paling besar dalam memformat stimulus (rangsangan). Hanya stimulus (baca: lingkungan) bermutu yang akan melahirkan seorang anak dengan kepribadian yang berkualitas.

Jika kita mencermati lebih jauh, Aji sebenarnya bisa cerdas untuk ketiga ranah kepribadian. Aji sudah memiliki dasar kepasitas intelektual yang cukup memadai untuk menyerap informasi, karena daya serap terhadap informasi sangat tergantung dengan kapasitas intelektual seseorang. Terlebih jika didukung oleh lingkungan yang kondusif, maka kapasitas intelektual Aji akan menjadi media berkembangnya aspek sosial-emosi dan psikomotornya.

Bukan nakal ini dan cerdas itu yang kita impikan dari anak kita, tetapi cerdas ini dan cerdas itu adalah harapan kita semua. Semoga.

Miftahul Jinan, M. Pd. I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”