Judul ini bukan masalah lamaran seorang pemuda yang diterima atau ditolak lamarannya. Ini masalah seorang anak yang meminta sesuatu kepada ortunya, lalu diterima permintaannya atau ditolak. Karena kita sering menjumpai anak merengek di pusat perbelanjaan meminta dibelikan beberapa barang.
Beberapa orangtua meresponnya dengan segera membelikannya. Daripada ia selalu mendengarkan rengekan dan tangisan sepanjang masa belanjanya. Sementara yang lain lebih memilih untuk menolaknya karena tidak sesuai dengan kesepakatan awal di rumah.
Diterima dan ditolak adalah suatu keniscayaan di dalam hidup manusia, termasuk hidup seorang anak. Seorang anak perlu diterima beberapa permintaannya, berdasarkan alasan dan kebutuhannya. Karena ia akan belajar dari pengalaman diterimanya jenis permintaan apa yang selalu diterima oleh orangtuanya dan jenis pemintaan apa yang selalu ditolak.

Tetapi seorang anak yang selalu diterima permintaan oleh orangtuanya akan tumbuh pemahaman bahwa apa yang dikehendakinya harus dituruti. Anak yang seperti ini akan berkembang menjadi seorang anak yang egois, keras kepala, dan kurang empati terhadap orang lain.
Seorang anak juga perlu merasa ditolak beberapa permintaannya, tentunya dengan menyertakan alasan yang sesuai dengan umur anak. Seorang anak yang pernah mengalami beberapa penolakan akan belajar ada permintaan yang ditolak dan ada permintaan yang diterima.
Ia juga mulai belajar untuk mengelola stress kecil-kecil karena penolakan (kegagalan) tersebut sebelum datangnya stress yang lebih besar karena kegagalan di dalam hidupnya kelak. Bahkan pada beberapa kasus anak yang pernah merasakan ditolak akan lebih menghargai orang lain dan menikmati keberhasil-keberhasilan kecil mereka.
Tetapi seorang anak yang selalu ditolak, apalagi tanpa diberikan alasan yang sesuai dengan tingkat pemikiran anak akan tumbuh menjadi anak yang merasa kurang berharga, kurang disayang, dan tidak percaya diri.

Saatnya kita menerima dan menolak permintaan anak dengan beberapa standar berikut ini :
1. Menerima Permintaan Anak yang Tidak Menyalahi Syariat Maupun Aturan.
Seperti saat anak meminta dibelikan sepeda motor padahal umurnya baru 15 tahun. Dengan konsisten terhadap syariat maupun aturan maka anak akan belajar konsisten aturan dan syariat di kemudian hari.
2. Menerima Permintaan Anak Jika Memang Sudah Membutuhkannya.
Seperti membelikan HP untuk anak karena memang ia membutuhkannya. Dengan aturan ini anak belajar untuk memiliki sesuatu berdasarkan kebutuhannya dan tidak berdasarkan kesenangannya
3. Membelikan Sesuatu dengan Aturan yang Jelas
Membelikan apa yang diminta oleh anak dengan aturan yang jelas pada barang yang telah dibelinya. Seperti aturan untuk selalu merapikan mainan anak setiap usai bermain. Aturan ini membangun karakter bertanggung jawab terhadap barang yang dimilikinya
4. Tidak Gratisan saat Memberi Sesuatu yang diminta Anak
Menggunakan syarat atau menunda beberapa waktu untuk pemberiannya. Dengan aturan ini anak belajar bahwa setiap yang diterima memerlukan perjuangan dan tidak serba instant.
KH. Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


