Nikmatnya Waktu Jeda

Kemarin pagi anak pertama kami meminta izin untuk membeli hamster dengan uangnya sendiri. Satu pekan terakhir ini ia memang selalu bercerita tentang hamster dan jenis-jenisnya. Tampaknya teman-teman di kelasnya sedang “demam”  hamster.

Kami berniat akan menolak permintaannya, akan tetapi kami belum mempunyai jawaban dan alasan yang tepat untuk menolak. Akhirnya, kami meminta waktu untuk memikirkannya.

Pagi ini kami telah menjawab permintaannya dengan mengizinkan membeli hamster, tentunya dengan syarat ia tidak boleh menempatkan binatang tersebut di dalam rumah. Ia dapat menempatkannya di garasi mobil atau di tempat lainnya. Alasan untuk syarat yang cukup berat tersebut karena ummi dan adiknya alergi bulu. Kami khawatir bulu binatang dapat merangsang batuk yang berkepanjangan bagi mereka.

Saat ini anak kami bertanya dan berpikir untuk menyiapkan rencana membeli sekaligus menempatkan hamster-nya di garasi.

Mengambil jeda ternyata memberi kenikmatan bagi semuanya, diantaranya:

  1. Mengambil jeda memberi kesempatan bagi orangtua untuk membuat keputusan beserta alasan-alasan yang baik.
  2. Dialog antar orangtua dalam waktu jeda menunjukkan kepada anak bahwa keputusan tersebut diambil dengan sungguh-sungguh.
  3. Emosi orangtua dan anak setelah waktu jeda biasanya lebih baik dan stabil.
  4. Waktu jeda dapat dijadikan orangtua untuk merangkai kata-kata yang baik dalam setiap keputusan. Seperti kasus di atas sebenarnya kami menolak tapi kami merangkainya dengan kata “boleh bersyarat”.
  5. Waktu jeda dapat mendidik anak bahwa setiap keputusan harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

“Silakan mengambil jeda karena ia seperti menarik napas panjang, melegakan, dan menjadikan emosi lebih stabil”.

Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Tips Instan Mendidik Anak”