Otoritas (Usia 4-6 Tahun dan 6-8 Tahun)

Inilah saatnya orangtua merasakan nikmatnya menjadi orangtua. Anak lebih mudah menerima otoritas orangtuanya. Mereka lebih mudah diajak kompromi dan kerjasama, terutama jika berkaitan dengan perkataan orangtuanya. Namun masih perlu diingat bahwa kepatuhan mereka masih sarat dengan harapan untuk memperoleh hadiah dan menghindari hukuman.

Anak di usia 4-6 tahun mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut:

  1. Menerima otoritas orangtua dan orang-orang yang paling dekat dengan dirinya
  2. Mereka sudah mulai menerima pandangan orang lain selain pandangan orangtua mereka sendiri
  3. Menjadikan standar moral orangtuanya sebagai standar moral bagi dirinya sendiri. Cara berbicara dan bersikap orangtua, seringkali menjadi model bagi diri mereka

Kehadiran orangtua secara fisik masih sangat berpengaruh terhadap kuatnya otoritas orangtua dihadapan putra-putri mereka.

Masa inilah masa bagi pembentukan moral dengan pola modelling. Mereka menjadikan orangtua atau orang-orang terdekat mereka sebagai model yang pantas ditiru dan diikuti gerak geriknya.

Pada masa ini orangtua dianjurkan untuk berhati-hati dalam perilaku dan suasana psikologinya. Diusia ini anak adalah peniru ulung bagi sikap dan perilaku orangtuanya. Jangan terkejut bila tiba-tiba anak kita duduk di kursi hampir mirip dengan cara kita duduk di kursi tersebut.

Dengan pola modelling tersebut, tidak berarti orangtua tidak perlu lagi menjelaskan tentang mengapa anak harus melakukan ini dan melarang anak untuk melakukan itu. Seperti kebiasaan anak untuk mengembalikan barang pada tempatnya, bukan karena untuk mendapatkan pujian atau menghindari hukuman dari orangtuanya. Tetapi lebih dari itu, mereka dapat merasakan nikmatnya kerapian dan ketertiban.

Pada usia 6 hingga 8 tahun, anak-anak mengalami dua bentuk perkembangan otoritas.

1. Perkembangan Wilayah Otoritas.

Jika sebelumnya mereka cenderung hanya menerima otoritas orangtuanya dan orang-orang yang setiap hari menjaganya, kini mereka mulai dapat menerima otoritas dari orang lain seperti guru dan pelatihnya.

Satu sisi perkembangan ini sangatlah menggembirakan, karena sebagai bukti nyata bahwa kemampuan sosialnya juga berkembang. Namun pada sisi lain, jika orang lain yang dijadikan model oleh anak kita merupakan sosok yang kurang baik moralnya, maka secara otomatis perkembangan moralnya juga kurang baik. Disinilah peran orangtua untuk membantu anak memilihkan lingkungan yang dipenuhi dengan orang-orang yang baik moralnya.

2. Perkembangan Pola Penerima Otoritas.

Perkembangan sebelumnya mereka menerima otoritas secara total, maka saat ini pola penerimaan otoritasnya bersifat timbal balik. Jika seseorang melakukan kebaikan kepada dirinya, maka ia akan melakukan kebaikan pula kepada orang tersebut.

Ada beberapa karakteristik bagi anak-anak dalam usia penerimaan otoritas timbal balik ini, diantaranya adalah:

  1. Anak mulai menyadari bahwa mereka mempunyai hak sebagaimana orang dewasa.
  2. Memiliki konsep keadilan yang kurang fleksibel, yaitu balas membalas. Mereka hanya melakukan kebaikan kepada orang yang telah melakukan kebaikan terhadap dirinya. Sebaliknya mereka akan membalas dengan kejahatan terhadap orang yang telah berbuat jahat kepada dirinya.
  3. Lebih sering membanding-bandingkan dan meminta perlakuan yang adil. Kue yang diperoleh kakak harus sama besar dengan kue yang diperolehnya.
  4. Cenderung membangkang terhadap hal yang ia anggap kurang adil dalam pembagiannya.
  5. Kurang dapat melihat tindakan yang salah, kecuali kalau melihat hasilnya yang membahayakan

Mengajarkan moral pada anak di usia otoritas timbal balik ini dapat memakai konsep prinsip timbal balik. “Jika kamu ingin dihormati oleh kawan-kawanmu, kamu juga harus bersikap hormat terhadap mereka”. “Mengapa mereka bersikap kasar terhadapmu, mungkin dikarenakan sikapmu yang kurang lembut terhadap mereka.”

Kesepakatan-kesepakatan yang mencerminkan keadilan bagi semua pihak juga dapat diterapkan kepada anak-anak di usia ini. “Bagaimana kalau mama mulai menyiapkan sarapanmu, dan kamu mulai merapikan buku-buku di tasmu?”

Namun orangtua atau guru harus memberikan pengertian agar mereka dapat melanjutkan pada perkembangan moral selanjutnya.

Karena banyak anak-anak pada usia selanjutnya bahkan pada usia dewasa tahapan moralnya masih dalam konsep timbal balik, balas membalas dan prinsip keadilan.

Untuk pengertian di atas Lickona menganjurkan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua/guru untuk mendorong moral anak berkembang pada tahap selanjutnya:

  1. Berilah contoh kepada anak perilaku baik yang didasari pada rasa cinta dan kasih sayang, bukan pada prinsip keadilan semata.
  2. Membantu anak untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, dengan mengajak mereka ke korban bencana alam atau panti asuhan.
  3. Menciptakan hubungan yang mesra dengan anak, agar mereka bisa peduli terhadap keinginan anda.
  4. Membantu mereka untuk melakukan tugas sesuai harapan anda bukan karena ingin mendapatkan hadiah atau pujian, tetapi karena mereka menikmati selesainya tugas tersebut dan dapat membantu orang lain.

Dalam masa otoritas ini terdapat juga tugas perkembangan moral yang harus dibangun, yaitu menanamkan rasa mampu untuk melaksanakan tugas. Orangtua harus secara halus mendorong anak-anak untuk berekplorasi agar mereka menyadari bahwa mereka dapat belajar menguasai sesuatu yang sebelumnya tidak mereka duga bisa mereka kuasai.

Jika orangtua atau guru gagal dalam menanamkan perasaan ini, maka besar kemungkinan anak tumbuh menjadi anak yang rendah diri (inferior) yang akan terbawa sampai usia dewasa.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari Buku “Aku Wariskan Moral bagi Anakku”

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.