Pagi itu diskusi parenting kami tentang penggunaan HP bagi anak-anak. Semula tema pembicaraan berkembang pada usia layak anak untuk mulai menggunakan HP, selanjutnya berkembang pada berapa waktu paling ideal bagi anak boleh menggunakan HPnya. Saat Kami berbicara tentang konten yang tidak boleh bagi anak untuk mengaksesnya, muncul sedikit perselisihan tentang posisi password bagi HP tersebut.
Ada sebagian dari kami berpendapat bahwa seorang anak tidak boleh memasang password bagi gadgetnya. Karena mereka sangat sulit untuk mengetahui apa yang sedang di akses oleh putra-putrinya. Pengalaman mereka membuktikan bahwa HP anak yang diberi password cenderung lebih banyak untuk mengakses hal-hal yang kurang baik.

Sementara beberapa orang yang lain memperbolehkan untuk memasang password bagi HP Demi privacy dan keamanan HPnya jika hilang suatu ketika. Namun dalam perbedaan tentang password HP anak akhirnya kami bersepakat bahwa bisa dipasang password asal orangtuanya mengetahuinya. Sebagaimana juga HP orangtua juga diberi password dan anak diberi tahu kata kuncinya.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjelaskan bagi anak yang sudah terlanjur terbiasa memberi password bagi gadgetnya. Apalagi jika HP tersebut dibeli oleh anak sendiri dan mereka merasa berhak untuk memperlakukannya sesuai dengan keinginannya.
Subhanallah berdirilah seorang ibu yang memiliki pengalaman tentang management HP anak dan sangat membantu bagi kami untuk memberikan alasan bagi anak mengapa HP tidak perlu dipasang password atau orangtua perlu mengetahui password HP anaknya. Ada beberapa langkah yang beliau lakukan untuk menjelaskan kepada anak tentang tanggung jawab orangtua hingga HP anaknya :

- Orangtua bertanggung jawab penuh terhadap anak, bertanggung jawab terhadap kebutuhan makan dan minum anak, kebutuhan pendidikan, kebutuhan pakaian dan kebutuhan lainnya.
- Sebagaiamana ia bertanggung jawab pada banyak aspek anak, maka ia juga mempunyai tanggung jawab terhadap apa yang terjadi pada anak. Kalau anak mengalami kecelakaan di jalan misalnya, maka itu sudah menjadi tanggung jawab anak untuk mengurusnya.
- Orangtua juga bertanggung jawab terhadap perkembangan akademis, psikologis, dan perilaku kesehariaan anak.
- Dengan tanggung jawab yang begitu besar maka orangtua harus bisa memastikan bahwa segala apa yang dimakan, dikerjakan, dan diakses oleh anak harus mendorong untuk kebaikan anak itu sendiri. Keluarga ini seperti kapal besar yang keselamatannya menjadi tanggung jawab orangtua sebagai nahkoda. Maka nahkoda harus sudah bisa memastikan apapun yang dibawa oleh penumpang dan apa yang mereka lakukan di atas kapal harus memastikan aman bagi perjalanan kapal besar ini.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.

