Permisif dan Rasa Kebahagiaan Anak

Beberapa hari yang lalu saya update status facebook dengan kata-kata mutiara seperti ini : Orangtua yang terlalu permisif dapat menghambat anak untuk merasakan  kebahagiaan hidupnya. Waktu menulisnya saya tidak memikirkan lebih mendalam apalagi mengidentifikasi fakta-fakta keseharian tentang anak-anak yang kurang berbahagia saat orangtuanya serba membolehkan. Hanya sekedar mengikuti feeling sebagai seorang penulis.

Sampai akhirnya saya mencoba mensimulasikan dalam fikiran terhadap anak saya. Saat anak meminta ice cream kemudian saya penuhi permintaannya. Tentunya Ia akan merasakan kebahagiaan tersebut. Selanjutnya pada hari kedua Ia meminta kembali ice cream, saya kembali memenuhi permintaannya. Iapun masih tetap merasakan kebahagiaan. Pada hari ketiga, keempat, kelima sampai hari kesepuluh Ia terus meminta ice cream tersebut. Dan saya selalu memenuhi permintaannya. Tentu Ia akan selalu merasakan kebahagiaan juga.

Tetapi mari kita coba untuk merasakan, apakah kebahagiaan anak saat menerima ice cream hari pertama dan hari kesepuluh tetap sama? Saya yakin kita akan menjawab, tentu sangatlah berbeda. Pada hari pertama ia menerima ice cream dengan merasakan kebahagiaan yang besar. Sementara pada hari kesepuluh maka sudah sangat berkurang, bahkan pada hari kesebelas Ia menerima ice cream tersebut dari saya menjadi sesuatu yang biasa.

Di sinilah kita mulai merasakan mengapa sikap serba membolehkan orangtua kepada anak justru menghilangkan perasaan bahagia saat anak menerima kenikmatan dalam hidupnya. Karena ia telah terbiasa untuk menerima kenikmatan tersebut tanpa usaha dan upaya yang memadai.

Memberikan kenikmatan kepada anak dengan menerima permintaannya atau menahan kenikmatan tersebut dengan menolak permintaan adalah sikap yang dapat menjadikan anak tetap merasakan kebahagiaan di saat mereka mendapatkan kenikmatan.

Dalam hidup ini apakah seseorang selalu akan mendapatkan “Ice Cream” (kebahagiaan) terus, sehingga kita orangtua hanya menyiapkan anak untuk menerima kebahagiaan? Jawabannya adalah tentu tidak. Anak-anak yang selalu diterima permintaannya, kemudian pada suatu waktu ia ditolak permintaannya, ia akan merasakan bahwa penolakan tersebut sebagai bencana besar baginya. Ia tidak mempunyai pengalaman yang cukup bagaimana menerima penolakan tersebut. Akhirnya ia cenderung kurang mempunyai kontrol diri yang baik.

Rahasianya adalah saat anak sesekali ditolak permintaannya (tidak mendapatkan ice cream), ia akan belajar menerima penolakan tersebut dan akhirnya justru Ia akan merasakan betapa bermaknanya saat diterima permintaannya pasca penolakan tersebut.

Disinilah tugas orangtua untuk membuat aturan-aturan yang jelas, kapan ia harus menerima permintaan anak dan kapan ia harus menolak permintaan. Dengan aturan-aturan tersebut anakpun akan belajar, permintaan apa yang layak dikabulkan oleh orangtuanya, dan permintaan apakah yang ditolaknya.

KH. Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.