Pornografi dalam Games

Apakah ada hubungan antara games, desainer games, anak-anak, dan masa depan mereka ?. Desainer games merancang permainan yang disukai anak. Anak-anak sangat tertarik pada games. Ketika sedang tertarik pada games, anak-anak kita mencurahkan banyak waktu untuk bermain games.

Ketika sedang bermain games, anak-anak lebih suka berada di depan monitor dari pada berbincang-bincang dengan kita. Ketika sedang menikmati games, mereka memilih tinggal sendiri daripada pergi jalan-jalan bersama kita.

Pertanyaan berikutnya, apakah yang ada dalam pikiran anak kita ?, mungkinkah games lebih mendominasi pikiran anak kita, daripada yang lain ?, Mungkinkah apa yang disajikan para desainer games akan memenuhi memori anak kita ?, Mungkinkah memori ini mempengaruhi cara berpikir, cara bersikap, dan cara berperilakunya ?, Mungkinkah masa depan anak-anak dipengaruhi games yang telah mendominasi pikirannya ?, Mungkinkah masa depan anak kita ada ditangan desainer games ?.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika games memang punya pengaruh buat anak-anak kita? Apa perlu kita khawatirkan?. Google pernah mengantarkan saya pada sebuah blog seorang penggemar games ketika saya memintanya membantu saya mencari informasi.

Informasi ini akan menjawab sebagian rasa kekhawatiran kita. Informasi apa itu? Informasi ini adalah cerita seorang penggemar games tentang trend baru didunia games. Mari kita dengar ceritanya!

“Oi” panggil teman saya suatu hari. “Datang deh ke rumah gw. Ada games baru super seru nih!”

Mengingat saya memang seorang penggemar games, saya langsung mendatangi rumah teman saya. Ketika saya melihat ke layar TV widescreen-nya, mata saya terbelalak. Betapa tidak? Yang ada dihadapan saya adalah dua gadis (model 3D) berbikini yang tengah bergulat di dalam lumpur.

“Sinting kan? Ini games barunya Konami nih! Namanya Rumble Rose !. Ada berbagai jenis cewek cakep buat diajak bergulat – gw lagi nelponin anak-anak lain ni. Kita bikin turnamen gulat cewe-cewe seksi yuk!” seloroh teman saya. Saya hanya mengangguk-angguk tanpa memperhatikan apa kata-katanya. Mata saya terpaku pada dua gadis di layar TV yang terus bergulat satu sama lain (sumber : www.tukangreview.com).

Pornografi! Ya, saya merasa bahwa cerita di atas sudah cukup bisa membangkitkan khawatiran kita pada games. Sebenarnya, pornografi bukanlah barang baru dalam dunia teknologi. Hampir semua penemuan baru selalu dibarengi dengan kemunculan pornografi yang memanfaatkan penemuan tersebut.

Maka tidaklah heran bila setelah muncul dalam video, VCD, maupun internet, pornografi kini muncul pula lewat games. Pornografi adalah salah satu istilah yang tepat untuk menggambarkan salah satu konten negatif dari games. Pornografi telah menjadi salah satu aspek yang digunakan sebagai daya tarik didalam games.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pornografi adalah gambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks. Jika pornografi menjadi konsumsi anak-anak kita, maka nafsu berahi atau hasrat seksual anak akan muncul lebih dini daripada usia seharusnya.

Rupanya, anak-anak tidak hanya menikmati ketegangan bermain games, tapi juga mencicipi ‘ketegangan lain’. Lalu jika hasrat ini berkembang tanpa kesiapan mental untuk mengelola keinginan tersebut, yang terjadi adalah anak secara alamiah akan mencari cara untuk menyalurkan hasrat tersebut, naudzubillah.

Sebelum kita menuduh semua games itu mengandung konten negatif, saya ingin menunjukkan contoh-contoh pornografi dalam games. Jadi, jika melihat anak-anak mengakses games dengan konten ini, kita dapat segera mengambil tindakan.

  1. Games yang didalamnya terdapat tokoh yang berpakaian kurang pantas, istilah dari ustadz-ustadz adalah mengumbar aurat. Misalnya, berpakaian mini, berpakaian terbuka, atau berpakaian yang menunjukkan lekuk tubuh.
  2. Games yang didalamnya terdapat tokoh dengan pose erotis, misalnya bentuk bibir yang monyong, bagian pantat yang diperbesar, atau bagian payudara yang menonjol.
  3. Games yang didalamnya terdapat adegan yang mengundang hasrat seksual, misalnya ada adegan laki-laki dan perempuan berciuman, berpelukan, atau kegiatan seksual yang lainnya.
  4. Games yang didalamnya terdapat situasi yang membangkitkan hasrat seksual, misalnya games yang bertujuan mengumpulkan perempuan cantik untuk mendapatkan skor, games yang menyajikan reward berupa hadiah menikmati wanita cantik ketika mencapai skor tertentu, atau games yang pemenangnya adalah pemain yang berhasil memperkosa wanita paling banyak.

Saya tentu saja tidak sepakat jika masa depan anak-anak kita ada ditangan desainer games seperti ini. Mengapa? anak-anak adalah amanah dari Allah buat para orangtua, kita memiliki kewajiban untuk membantu anak-anak meraih masa depan yang baik, dengan memberikan pendidikan yang terbaik dan menjauhi anak-anak dari hal-hal yang buruk.

Memang tidak semua games mengandung konten pornografi, namun kita tetap harus berhati-hati dan segera mengambil langkah pencegahan untuk menjaga anak-anak kita.

“Anakmu bukanlah anakmu, mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri,” begitu kata sastrawan tersohor Kahlil Gibran. Kita memang tidak bisa menentukan masa depan anak kita, akan jadi apa mereka nanti, karena mereka punya kehidupan dan takdir tersendiri nantinya.

Namun, usaha dan doa tetap wajib kita lakukan. Semoga hal ini menambah semangat kita untuk terus berusaha memberikan yang terbaik dan berdoa pada Allah mengharapkan yang terbaik.

Drs. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Awas Anak Kecanduan Games”

_________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.