Reaksi Spontan : Moral

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa 60% lebih tindak kekerasan bahkan pembunuhan dilakukan secara spontan, yaitu pelaku kekerasan atau pembunuhan tidak pernah merencakan untuk melakukannya. Jika mereka akhirnya melakukannya, maka itu hanyalah akibat bereaksi terhadap sikap korbannya sebelum tindak kriminal tersebut terjadi.

Bahkan sekelompok perampok paling sadis pun tidak pernah merencanakan dalam perampokannya untuk mencederai apalagi membunuh. Pertanyaannya adalah, mengapa mereka selalu melakukan kekerasan dan pembunuhan dalam setiap aksi mereka? Jawabannya, itu adalah reaksi spontan. Dalam situasi mereka tidak dapat menjalankan maksudnya kecuali dengan membunuh, akhirnya mereka akan membunuh.

Setiap manusia yang normal mempunyai reaksi spontannya masing-masing. Bahkan terhadap sebuah kejadian yang sama, masing-masing orang akan mempunyai reaksi spontan yang berbeda. Seperti reaksi spontan terhadap orang yang mencemooh, ada yang hanya menanggapinya dengan senyuman, namun ada yang menanggapinya dengan emosi yang meledak-ledak.

Permasalahan sesungguhnya adalah bagaimana reaksi spontan dapat muncul? Ada orang yang reaksi spontannya berupa hal-hal positif seperti tersenyum. Reaksi spontan dapat timbul karena adanya trauma, menyaksikan kejadian serupa berulangkali, kebutuhan yang mendesak, dan sebuah keyakinan yang kuat. Jadi semakin tinggi spontanitas seseorang dalam membunuh maka semakin dinginlah pembunuhan tersebut.

Kasus jagal Jombang Ryan adalah contoh yang paling sahih dalam konteks ini. Walaupun ia telah membunuh lebih dari 10 orang, tetap saja ia mengatakan bahwa ia melakukannya dengan sangat spontan dan tidak direncanakan sebelumnya. Munculnya reaksi spontan Ryan dalam bentuk membunuh dapat terbentuk karena perjalanan hidupnya yang penuh dengan peristiwa-peristiwa yang jauh dari kesan membahagiakan apalagi membuatnya menjadi seorang pemuda yang mempunyai citra diri positif.

Sebaliknya sejumlah 60% kasus seseorang melakukan tindak kebaikan juga dipicu oleh reaksi spontan. Seperti misalnya seseorang yang melihat sekelompok anak kecil yang bermain dengan muka yang kotor dan pakaian yang sangat lusuh akan timbul reaksi spontannya dalam bentuk membelikan mereka baju yang baru.

Permasalahannya adalah, mengapa sebuah kejadian tidak selalu memberikan reaksi spontan yang sama pada semua orang? Dimana satu orang dapat menangis dan segera memberikan bantuan untuk kejadian tersebut, namun orang lainnya hanya menimbulkan rasa simpati kepadanya?.

Disinilah statement tentang munculnya reaksi dapat dilanjutkan, bahwa jenis reaksi spontanitas ditentukan dengan jenis trauma, jenis kejadian yang sering disaksikan, jenis kebutuhan yang mendesak, dan jenis keyakinan yang dimiliki.

Dengan penjelasan ini seseorang yang menangis melihat sekelompok anak kecil yang lusuh di atas bisa jadi karena ia mempunyai masa lampau yang menyerupai anak-anak itu atau mempunyai saudara kandung yang nasibnya sama seperti anak-anak tersebut, atau ia mempunyai keyakinan bahwa membantu anak-anak itu akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah.

Dengan teori reaksi spontan ini para orangtua dan guru dapat memilihkan jenis kejadian-kejadian yang harus disaksikan oleh anak, membangun kebutuhan-kebutuhan, memberikan bacaan atau tayangan televisi yang sesuai dengan jenis reaksi spontan yang diharapkan.

Orangtua yang menghendaki putra-putrinya mempunyai moral empati kepada sesama, harus menumbuhkan reaksi spontan empati, yaitu mudah tersentuh, hatinya bebas dari iri dan dengki dan belajar memandang dari sudut pandang orang lain.

Selanjutnya ia dapat sering menunjukkan kepada putra-putrinya ketersentuhannya kepada orang yang mengalami musibah, atau terbebasnya dari perasaan iri dan dengki pada orang lain, serta memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengungkapkan pandangannya bahkan terhadap putranya.

Jika seorang guru menghendaki para siswanya mempunyai moral kerja sama maka ia harus menunjukkan kenikmatan bekerja sama dihadapan siswa-siswinya. Ia dapat pula memberikan kegiatan-kegiatan yang memaksa mereka untuk bekerja sama. Kita sebenarnya tidak dapat membuat reaksi spontan putra-putri kita, tetapi kita dapat memilihkan peristiwa-peristiwa yang menjadi mata air reaksi spontan tersebut.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”

_________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.