Rentang Konsentrasi Anak

Pada waktu libur anak-anak cenderung menggunakan waktunya untuk bermain di dalam rumah dan melihat sapi-sapi di lapangan perumahan yang akan di sembelih pada hari Raya Idul Adha. Tiba-tiba putra ketigaku yang duduk di kelompok B sebuah TK menghampiri dan meminta untuk dipangku.

Sejenak saya bermain-main dengannya, lalu saya menawarkan untuk mengambil buku pelajaran membacanya. Karena dalam satu pekan ini memang saya tidak sempat melihat perkembangan kemampuan membacanya.

Dengan antusias dia mengambil buku pelajaran membacanya dan menunjukkan kartu lembar prestasi. Saya melihat beberapa bintang dalam kartu lembar prestasi tersebut tanda Ia telah mengalami kemajuan dalam kemampuan membaca. Saya menawarkan diri untuk menyimak bacaan pada lembar selanjutnya.

Pada lembar pertama, Ia membacanya dengan baik, kemudian saya memintanya untuk melanjutkan pada lembar berikutnya, saya agak heran ketika menjumpai kemampuan anak begitu merosot dengan beberapa kesalahan yang sebenarnya telah dikuasai sebelumnya.

Terlihat anak ini sudah sangat merosot konsentrasinya terhadap bahan bacaan. Saya memintanya untuk bermain dengan berkata, “Dik kamu bermain dahulu, abi menunggumu untuk menyimak bacaanmu lagi di sini”. Subhanallah, dalam rentang waktu kurang dari sepuluh menit Ia telah datang dan kembali membaca halaman buku yang tadi kurang lancar Ia baca. Ia dapat membacanya dengan sangat lancar tanpa kesalahan Sedikitpun.

Saya memintanya untuk kembali bermain sambil mengingatkannya untuk kembali kepada saya untuk membaca halaman berikutnya. Ia melakukannya dengan sangat baik. Proses ini berulang hingga empat kali dengan hasil yang sangat baik.

Berangkat dari fenomena ini saya memahami bahwa anak mempunyai rentang waktu konsentrasi yang sangat terbatas. Meminta anak untuk terus belajar melebihi rentang waktu konsentrasi anak justru menjadikan anak tidak segera memahami pelajaran yang ia hadapi. Memaksa anak untuk belajar melebihi rentang waktu konsentrasinya justru memberikan pengalaman yang kurang baik bagi anak tentang belajar.

Karena itu mendampingi anak saat belajar bukan hanya memastikan anak memahami pelajaran mereka tetapi membantu anak untuk mempunyai pengalaman yang indah tentang belajar. Dari pengalaman yang indah tentang belajar itulah dapat mendorong munculnya hobi baru dari anak. Hobi itu adalah hobi “Belajar”.

H. Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.