Hari ini saya mendapatkan sebuah inspirasi dari seorang guru TK tentang kegiatan berdo’a bagi siswa didiknya. Ia adalah guru TK pada kelompok A dengan satu orang guru mitra. Pada awal tahun ajaran Lalu ia mulai mengajar di kelompok A dan salah satu kegiatan yang Ia biasakan pada siswa didiknya adalah bersikap tenang dan khusyu’ saat berdoa.
Ia bersepakat dengan guru mitranya untuk memberi contoh sikap do’a yang baik. Tidak ada penjelasan yang terlalu panjang dan bertele-tele kecuali hanya kata-kata yang singkat dan jelas. Lalu mereka mulai memimpin kegiatan do’a bersama.

Ada satu cara berbeda yang mereka terapkan dan sangat berbeda dibandingkan dengan kelas yang lainnya, yaitu kedua guru memberi contoh di depan kelas untuk berdoa tanpa merasa terganggu jika beberapa siswanya ramai atau berbuat usil saat berdoa.
Ada beberapa anak yang mulai mengikuti mereka, sementara yang lain masih tetap bermain dan berbicara. Seusai kegiatan berdoa mereka mengevaluasi sebentar tentang kegiatan berdoa.
Kelas ini punyai prinsip bahwa berdoa adalah kegiatan yang sakral dan penting serta tidak boleh ada gangguan sama sekali. Dan guru mereka telah memberi contoh tentang kekhusyukan dan kesakralannya.
Pertama mungkin masih banyak gangguan di awal penerapannya. Bahkan sangat sering Ia menjumpai anak yang menangis ditengah-tengah kegiatan doa karena diganggu oleh temannya. Tetapi kedua guru ini tetap melanjutkan kegiatan doanya tanpa merasa terganggu oleh mereka.

Subhanallah setelah dua bulan berjalan siswa didiknya berangsur-angsur mulai merapikan dirinya dan menyesuaikan sikap mereka dengan sikap gurunya.
Dan hari-hari ini saya merasa menjadi guru yang paling berbahagia melihat anak didik saya melaksanakan kegiatan doanya dengan tertib dan khusyu’. Mereka mempunyai pandangan bahwa berdoa adalah kegiatan yang serius dan tidak boleh ada gangguan sebagaimana guru-guru mereka merasa tidak terganggu dengan aktivitas dan dinamika mereka.
Teknik ini dapat kita bawa pada konteks yang lain, untuk membuat shalat adalah kewajiban yang penting bagi anak, maka orangtua harus mempunyai sikap bahwa shalat itu penting. Segera ambil air wudhu untuk shalat saat mendengar adzan atau segera membelokkan mobil kita ke masjid untuk mengikuti shalat jamaah.
Kata kuncinya adalah praktekkan apa yang kita yakini, maka anak-anak kita akan mempunyai keyakinan seperti apa yang kita praktekkan.
Drs. H. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


