Ada satu kesamaan yang selalu kita temukan dalam sejarah peradaban: manusia boleh membangun gedung-gedung megah, tetapi peradaban yang matang selalu menyisakan pohon. Pohon menjadi saksi sunyi bahwa di tempat itu pernah hidup manusia yang memahami makna keberlanjutan, bukan sekadar kemajuan.
Ironisnya, di tengah dunia yang semakin modern, ruang hijau justru semakin menyempit. Sekolah berdiri di antara beton, rumah bertumbuh ke atas bukan ke samping, dan anak-anak tumbuh dengan layar, bukan dengan tanah dan akar. Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah sempitnya ruang harus berbanding lurus dengan sempitnya kontribusi? Jawabannya: tidak sama sekali.

Pohon bukan sekadar elemen lanskap. Secara ilmiah, pohon berperan dalam menurunkan suhu lingkungan, menyerap karbon, memperbaiki kualitas udara, serta menciptakan iklim mikro yang lebih sehat. Namun bagi dunia pendidikan, manfaat pohon melampaui aspek ekologis.
Berbagai kajian menunjukkan bahwa lingkungan hijau berpengaruh positif terhadap konsentrasi, kesehatan mental, dan keseimbangan emosi peserta didik. Anak yang berinteraksi dengan alam cenderung lebih reflektif, lebih peduli, dan memiliki daya tahan psikologis yang lebih baik. Dengan kata lain, menanam pohon sejatinya adalah bagian dari proses menumbuhkan manusia seutuhnya.
Di sinilah pendidikan dan lingkungan bertemu pada satu titik, yaitu pembentukan karakter berkelanjutan. Bagaimana strateginya, ikuti seri 2 berikutnya ya…
Arif Santoso, S.T., C.NLC.
Trainer Griya Parenting Indonesia
Penulis Buku Teacher as Coach
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


