Tidur Bersama Orangtua

Mungkin semua sepakat bahwa anak usia 0-2 tahun perlu untuk tidur bersama orangtua dalam satu kamar. Jarang sekali ahli yang mempunyai pendapat bayi di usia tersebut perlu dipisahkan kamarnya dengan orangtua.

Minimal ada tiga kebutuhan anak sehingga harus selalu dekat dengan orangtua, terutama ibu pada usia awal mereka. Pertama, kelekatan psikologis antara orangtua dan anak; kedua, kebutuhan stimulasi fisik dan mental; dan ketiga, kebutuhan terhadap rasa aman.

Ada orang yang berselisih paham tentang tempat tidur anak usia 0-2 tahun, apakah ia perlu tidur dalam satu ranjang atau diranjang yang terpisah dengan orangtuanya. Mereka yang berpendapat bahwa anak usia 0-2 tahun perlu tidur dalam satu ranjang bersama orangtuanya beralasan dapat mempermudah ibu untuk melayani kebutuhan anak saat buang kotoran maupun memberikan minuman. Di samping kebutuhan agar anak lebih dekat dan selalu dalam dekapan ibunya.

Namun, tidur dalam satu ranjang bersama ibunya bukan tanpa resiko. Banyak kejadian beberapa ibu yang mampunyai kebiasaan tidur “ngebo” tidak sadar bahwa tangan atau kakinya yang besar bisa menindih badan anaknya. Tentunya ini sangat berbahaya bagi anak itu sendiri.

Ranjang orangtua sering tidak didesain untuk keselamatan anak sehingga tidak mempunyai pagar yang cukup tinggi di sisi pinggir ranjang tersebut. Beberapa anak yang sudah mempunyai banyak gerakan sangat rawan terjatuh dari tempat tidur saat kedua orangtuanya tertidur lelap.

Untuk meminimalkan resiko tersebut, sering kita temui ranjang bayi yang didesain khusus dengan pagar tinggi di setiap sisi pinggir.

Untuk anak-anak yang lebih besar dari usia di atas, seringkali kita menjumpai perbedaan pendapat, sebaiknya anak dipisah tidurnya di kamar tersendiri atau mereka tetap tidur bersama orangtuanya hingga mereka mempunyai keberanian untuk tidur sendiri.

KEBUTUHAN ANAK ATAU KEBUTUHAN ORANGTUA

Pada anak-anak usia lebih dari 4 tahun yang masih tidur bersama orangtuanya seringkali kita menyampaikan bahwa mereka masih sangat membutuhkan kedekatan dengan orangtua dan belum mempunyai keberanian untuk tidur sendiri. Pendapat ini seringkali berasal dari perspektif anak. Padahal, pada kehidupan nyata seringkali kita temui justru orangtua yang lebih membutuhkan keberadaan anak di samping mereka saat tidur.

Waktu itu anak ketiga kami baru berusia 3 tahun. Karena semua anak berjenis kelamin laki-laki, seringkali mereka bermain dalam satu kamar dan tertidur bersama-sama, termasuk anak ketiga. Beberapa kali kami tidak sempat memindahkannya ke kamar orangtuanya. Ia akhirnya tidur semalaman di kamar kakak-kakaknya hingga bangun pada keesokan harinya.

Akibat hal di atas tidak muncul rasa kesal dan marah darinya seusai tidur semalaman di kamar kakaknya. Dari peristiwa itu saya menyimpulkan bahwa sebenarnya ia telah siap untuk tidur terpisah dengan orangtuanya.

Namun, kenyataannya anak tersebut lebih sering tidur bersama kami walaupun sempat ketiduran di kamar kakaknya. Ummi-nya selalu memindahkan tidur si kecil karena ia tidak dapat tidur nyenyak tanpa ada si kecil di sampingnya. Dari peristiwa ini saya menyimpulkan bahwa seringkali kebutuhan untuk tidur bersama tidak selalu berangkat dari kebutuhan anak dan keberaniannya. Sebaliknya, justru orangtua yang membutuhkannya.

Ada satu cerita dari seorang ibu yang masih berkaitan dengan masalah ini. Beliau mempunyai seorang putri yang duduk di kelas lima Sekolah Dasar. Orangtua ini mempunyai cita-cita untuk memasukkan putrinya ke pondok pesantren setelah usai masa belajarnya di Sekolah Dasar. Alhamdulillah, putrinya juga mempunyai minat untuk belajar di pondok pesantren.

Namun, ada satu sikap aneh yang ditunjukkan oleh ayahnya, yaitu akhir-akhir ini ia selalu ingin tidur bersama putrinya karena sebentar lagi putrinya sudah tidak tidur lagi bersama-sama mereka. Padahal, sebelum peristiwa ini, putrinya sudah terbiasa tidur sendiri di kamarnya.

Mendengar cerita tersebut saya hanya menyampaikan pendapat bahwa apa yang dilakukan oleh ayah justru bertolakbelakang dengan apa yang dibutuhkan oleh putrinya. Kebutuhan putrinya saat menjelang masuk di pondok pesantren adalah kemandirian dan tanggung jawab. Namun, tindakan yang dilakukan oleh ayah tersebut justru membuat anaknya kurang mandiri.

Saya justru merasakan sebaliknya dengan rasa kasih sayang yang kuat dari ayah yang memunculkan perasaan kehilangan ketika putrinya nanti menempuh pendidikan di pondok pesantren dan harus berpisah dengan orangtuanya.

MENGAPA HARUS TERPISAH ?

Mendengar beberapa orangtua yang bercerita tentang anaknya yang masih tidur bersama mereka di usia lebih dari 8-9 tahun, saya merasakan ada sesuatu yang aneh dari anak-anak itu. Sebenarnya ada beberapa alasan bagi orangtua untuk mulai mengajari anak-anaknya sedini mungkin untuk tidur terpisah dengan orangtuanya, diantaranya:

1. Anjuran dalam Agama Islam

Firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 58 mengharuskan bagi para budak dan anak-anak yang belum baligh meminta izin pada tiga waktu untuk masuk pada kamar orangtuanya; sebelum shalat fajar, sesudah shalat dhuhur, dan setelah shalat isya’. 

Dengan firman tersebut, otomatis seorang anak harus sudah terpisah tidurnya dengan orang tuanya jauh sebelum balighnya sehingga pada usia 3-4 tahun orang tua sudah perlu mulai mengajari anak-anak untuk tidur terpisah dari orang tua.

2. Adanya Informasi yang Harus Tidak diketahui Anak

Orangtua mempunyai rahasia yang tidak dapat diketahui oleh anak-anaknya. Dengan tidur terpisah, orangtua dapat tetap menjaga hal yang tidak layak untuk diketahui oleh anak-anak.

3. Membangun Sikap Mandiri dan Tanggung Jawab Anak

Menempatkan anak pada kamar tersendiri dan tidur di dalamnya dapat membangun kemandirian dan tanggung jawab terhadap kamarnya. Mereka dapat mengatur dan merapikan kamarnya secara mandiri serta mempunyai otoritas terhadap orangtua yang harus menghormati otoritas mereka.

4. Melatih Anak untuk Terbiasa Tidur Tanpa Buaian Orangtua

Tidak selamanya anak akan hidup dan tidur bersama-sama terus. Dengan mengajari anak untuk tidur terpisah, orangtua mendidik anak untuk dapat tidur dengan buaiannya sendiri tanpa tergantung oleh buaian orangtuanya.

TAHAPAN MENDIDIK ANAK TIDUR TERPISAH

Beberapa anak mengalami kesulitan untuk memulai tidur terpisah dari orangtuanya. Ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk membantu anaknya memulai tidur terpisah dengan mereka, diantaranya:

  1. Orangtua menyediakan kamar tidur yang nyaman bagi anak-anak mereka.
  2. Mengatakan kepada anak bahwa ia akan tidur di kamarnya sendiri, dan kita orangtua akan membantu mereka melakukan itu.
  3. Pada malam pertama, orangtua masih boleh duduk di sisi tempat tidur dan ada di dalam kamar anak sampai anak tertidur. Namun, selama menunggu tidur anak tidak ada interaksi setelah kita mengucapkan selamat tidur.
  4. Menggeser kursi setiap malam ke arah pintu sampai kita berada di luar kamar. Kita terus melakukan ini sampai anak-anak bisa tidur dengan sendirinya. Tidak boleh menyerah, berbicara, atau membujuk anak.
  5. Jika kita tetap pada rutinitas ini, maka perlahan tapi pasti tahapan ini akan berhasil.

Drs. Miftahul Jinan, M. Pd. I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

___________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.

One response to “Tidur Bersama Orangtua”

  1. Admin Web Avatar

Leave a Reply