Hari itu saya agak kesulitan menghadapi dua putra saya yang sedang bertengkar hebat memperebutkan sepotong kayu unik yang mereka temukan di samping rumah. Mereka saling memukul dengan sengit dan mengucapkan kata-kata buruk serta saling menyalahkan saudaranya. Yang saya lakukan hanyalah memisahkan keduanya dan memegang salah satu yang tampak paling emosi.
Saya sering menyampaikan sebuah statement kepada peserta Smart Parenting Training bahwa konflik antara anak dengan anak atau anak dengan orangtua dapat kita jadikan sebagai sarana pendidikan. Statement tersebut hari itu telah memaksa kesadaran saya untuk lebih peka bahwa menjadikan konflik anak sebagai sarana pendidikan bukanlah merupakan sebuah kegiatan yang mudah untuk dilakukan, walaupun terlihat indah untuk diucapkan.
Jika kedua anak saya saling memukul saat konflik, atau mengucapkan kata-kata yang buruk serta selalu menyalahkan saudaranya adalah merupakan peristiwa yang sangat wajar, saya tidak mungkin memarahi keduanya dengan keras. Karena mereka belum pernah dididik bagaimana menghadapi suasana konflik.
Dengan demikian contoh dari orangtua yang jarang memukul dan berteriak, atau nasehat dari guru untuk tidak menyakiti saudara bagi pikiran anak hanyalah informasi yang mereka ingat saat kondisi normal atau saat ujian.
Namun saat mereka menghadapi kondisi yang tidak normal seperti bertengkar atau marah, maka informasi tersebut jarang mereka ingat apalagi menjadikannya sebagai salah satu alternatif sikap.
Bermain peran moral dengan bentuk simulasi moral dapat dijadikan salah satu alternatif bagi pendidikan moral anak. Dengan menentukan moral yang akan dibidik lalu membuatkan skenario yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak, maka orangtua dan anak dapat bermain peran bersama dalam simulasi moral tersebut.
Saya sangat bangga terhadap beberapa sekolah yang telah menggunakan teknik ini, mereka mengajarkan siswanya bagaimana mengenal tanda-tanda tubuh menjelang marah, kemudian mempraktekkan beberapa ajaran Rasulullah saat marah, seperti berpindah tempat, mengambil air wudlu, memohon perlindungan Allah dari godaan syaitan, dan lain-lain.
Terdapat beberapa keuntungan dari teknik ini jika sering dilakukan oleh orangtua dan anak, diantaranya adalah:
- Orangtua dapat memilihkan bentuk perilaku yang dibutuhkan bagi moral yang akan dibangun, seperti kesabaran, kejujuran, komitmen, atau integritas.
- Anak akan menghayati moral tersebut sedalam penghayatan mereka terhadap peran yang dimainkan
- Penghayatan ini akan masuk pikiran bawah sadar anak, di mana dengan mudah mereka mengeluarkannya disaat mereka membutuhkannya dalam bersikap.
- Permainan peran tidak selalu menyediakan teks yang harus dikuasai dan dihafal oleh anak, cukup kedua orangtua memberi contoh kemudian anak menirukannya, maka anak akan mampu melakukannya dengan baik.
“Saat ini seorang guru agama, guru PKN, guru adab, atau wali kelas tidak cukup lagi hanya menyampaikan materi pelajaran dengan metode ceramah dengan cerita-cerita yang memotivasi di dalamnya. Tetapi dengan permainan peran terhadap moral yang dibidik (kesabaran, kejujuran, keterbukaan, dll) anak akan lebih menjiwai moral-moral tersebut, sehingga pada akhirnya mereka akan lebih mudah menjalankan-nya dalam kehidupan sehari-hari.”
Penerapan teknik ini memang tidak sesederhana metode ceramah atau nasehat. Karena orangtua dan guru dituntut untuk menyediakan berbagai skenario dalam berbagai moral, kemudian mereka harus mampu memberikan contoh peran kepada anak. Namun hasil dari pendidikan moral dengan teknik ini akan lebih efektif dan optimal.
Menurut Dr. Vernon A. Magnesen (1983) seorang anak belajar 10 % dari apa yang dia baca, 20 % dari apa yang dia dengar, 30 % dari apa yang dia lihat, 50 % dari apa yang dia lihat dan dengar, 70 % dari apa yang dia katakan dan 90 % dari apa yang dia katakan dan lakukan.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Untuk Anakku”
_____________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


