Ujian Hidup Bagi Anak

“Alif lam Mim, apakah manusia mengira mereka dibiarkan untuk mengatakan kami beriman lalu mereka tidak diuji”.

Ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa sebuah cobaan bagi orang yang beriman adalah sebuah keniscayaan hidup. Maka salah satu skill yang harus kita berikan kepada anak-anak kita yang beriman untuk masa depan mereka adalah keterampilan untuk menghadapi ujian-ujian hidup mereka.

Tentu kita memahami bahwa untuk mengajari anak terampil berenang adalah dengan membawa mereka ke kolam renang dan mempraktikkannya. Jika ada teori-teori tentang renang yang baik dan jenis-jenisnya, sekalian  kita berikan bersamaan dengan praktik berenang itu sendiri.

Maka sebenarnya mengajari anak untuk dapat menghadapi ujian hidup mereka adalah dengan memberikan dan membiarkan mereka berhadapan dengan ujian hidup mereka sendiri. Seorang anak kecil yang pulang ke rumah dengan menangis sambil memegang kakinya yang agak lebam karena ditendang oleh temannya saat main sepakbola maka orangtua perlu segera mendatanginya dan memberikan obat bagi sakit lebamnya sebagai bentuk rasa kasih sayang kita kepadanya.

Tetapi untuk urusan pertikaian dengan temannya akibat peristiwa tersebut bukanlah urusan orangtua dan biarkan mereka menyelesaikannya sendiri.Ada dua hal yang selalu harus manjadi perhatian orangtua saat anak menghadapi ujian, yaitu :

1. Mendampingi Anak saat Mereka Menghadapi Ujian.

Mendampingi anak bukanlah terlalu ikut campur dalam ujian anak sehingga ujian tersebut berpindah dari pundak anak menuju pundak orangtua. Seperti saat anak mendapatkan sanksi dari gurunya karena ia mencoret bangkunya dengan spidol lalu orangtua memohon kepada gurunya untuk meniadakan sanksi tersebut.

Mendampingi anak adalah berusaha untuk mendengar keluhan anak saat menerima ujian tersebut, bertanya untuk membimbing sikap yang benar dari anak atau cara yang baik di dalam menghadapi ujian tersebut, serta memberi kepercayaan dan motivasi bahwa ia kuat di dalam menghadapinya.

2. Jangan Biarkan Anak Merasa Sendirian

Tidak membiarkan anak untuk menghadapi ujian sendiri sehingga ia merasa bahwa orangtuanya tidak mempunyai empati terhadap dirinya. Dengan mendampingi anak di dalam menghadapi ujian maka akan meningkatkan kepercayaan diri anak bahwa ia dapat menyelesaikan ujiannya dengan baik dan menghindari dari sikap-sikap negatif dari anak karena keputus asaannya di dalam menghadapi ujian

Jangan pernah menghindarkan anak dari ujian hidupnya, itu hanya membuat mereka semakin lemah dan tidak berdaya. Dari ujian-ujian kecil itulah seorang anak belajar bagaimana menyelesaikan ujian-ujian besar di dalam hidupnya.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.